:: Halaman Depan  :: Berita & Referensi  :: Kirim Berita  :: Artikel-Artikel  :: Forum  :: File Download  :: FAQ  :: Komposisi hari ini 
 
Dunia Penerbitan Alternatif: Geliat Budaya Aksara Indonesia
Diposting oleh admin26/07/2002
Oleh: Yudhista Aditya

Boleh saja Indonesia dibilang negara yang terbelakang dalam budaya aksara. Bayangkan saja, untuk tahun 1995 misalnya, hanya ada 3500 judul buku terbitan baru dalam tempo setahun. Tak heran jika hingga tahun 1996, jumlah buku terbit baru pada bilangan 14.000 judul. Bandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 11.000 judul buku baru tiap tahunnya. Dan untuk Indonesia, sebagian buku terbitannya adalah buku pelajaran untuk sekolah dan perguruan tinggi (60 %), serta buku-buku pengantar. Menyedihkan? Mungkin demikian adanya. Tapi coba tengok statistika penerbitan untuk koran, yang terbit melebihi angka 14 juta eksemplar tiap harinya. Lalu tengok juga jumlah media-media intern (community media) yang tak asing dalam komunitas di sekeliling kita. Paling tidak, kenyataan “baik” macam ini agak bisa menjadi pelipur lara kegetiran jagat baca-tulis kita.

Dengan sudut pandang optimistis, agaknya gairah masyarakat kita untuk menerbitkan bacaan cukup tinggi. Bahkan mungkin jauh lebih tinggi dibandingkan kapasitas produksi industri pers dan penerbitan yang ada di negeri ini. Sayangnya, saya tak bisa menukilkan data empiris sebagai ilustrasinya. Namun fenomena di sekeliling kita cukup bisa berbicara tentang hal ini.

Baru-baru ini, saya mendengar kawan-kawan di UGM mempunyai satu lembaga penerbitan baru. Philosophy Press namanya. Lembaga yang dimotori para dosen senior ini agaknya menjadi tutup-tumbu bagi kegairahan menulis yang cukup tinggi di lingkungan UGM. Nyatanya, dalam tempo singkat penerbit baru ini mampu menghasilkan ---- judul buku baru yang dilempar ke pasar. Itu belum termasuk beberapa naskah yang siap naik cetak. Philosophy Press sendiri muncul menyikapi kekecewaan para penulis (dan akademisi) pada penerbit-penerbit buku yang sudah eksis sebelumnya. Proses pasca penulisan buku hingga diterbitkan, seringkali memakan waktu yang terlalu lama. Bisa setengah hingga dua tahun atau lebih. Keadaaan macam ini mungkin tak banyak berpengaruh pada penulis-penulis buku yang kontennya hampir selalu aktual. Tapi bagaimana jika bahan terbitannya termasuk barang yang punya periode aktualnya relatif cekak? Buku-buku aplikasi komputer, misalnya.

Mungkin itu bukan fenomena yang terlalu istimewa untuk skup Jokja. Industri penerbitan di kota gudeg itu benar-benar menyimpan nuansa kedekatan yang kental dengan publik awam. Jangan bayangkan kantor penerbit di Jokja memajang wajah “wah” seperti penerbit-penerbit di Jakarta. Industri penerbitan Jogja adalah industri rumahan, tak beda jauh dengan gudeg kendil dan tahu-tempe. Kantornya seringkali hanya di rumah kontrakan sederhana, dengan beberapa PC dan staf tak lebih dari sepuluh orang.

Kawan saya, kebetulan pejabat eksekutif penerbit Zaituna, cukup mewakili gambaran macam itu. Penerbit yang punya nama cukup besar bagi penggemar buku-buku budaya (terutama kumpulan tulisan Emha Ainun Najib) itu, punya nuansa “kantor” yang sangat sederhana. Bahkan lebih terasa suasana rumah daripada suasana kantoran. Hanya pekerja divisi grafis yang punya deskripsi kerja paling jelas. Jangan tanya ke mana manajernya. Sebab, boleh jadi saat Anda ke sana, dia sedang ke luar kota untuk menemui distributor-distributornya dengan menumpang bus kelas ekonomi. Dunia kaum pebelajar juga mendukung geliat budaya aksara. Hampir tiap sekolah punya buletin, majalah, atau paling tidak – mading. Siap-siaplah berdecak kagum melihat gigihnya mereka bergulat dengan kertas dan alat tulis untuk mengejar tenggat. Mungkin banyak yang melihat kerja mereka dengan satu mata. Alasannya, bobot tulisannya terlalu ringan dan tak berisi, atau karena banyaknya plagiasi. Namun kerja keras mereka cukup layak diacungi jempol.

Belum lagi gerakan-gerakan yang akhirnya menumbuhkan lembaga-lembaga pers dan penerbitan alternatif di kalangan mahasiswa. Dari PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia), saya pernah mendapatkan sedikit gambaran tentang geliat dunia pers bawah tanah itu. Sebelum lembaga ini terpecah menjadi beberapa faksi yang akhirnya berdiri masing-masing, anggotanya mencapai jumlah 250-an lembaga pers mahasiswa. Sebagai gambaran, biasanya setiap lembaga pers mahasiswa (LPM) memproduksi beberapa media. Majalah, buletin, dan mading, adalah bentuk-bentuk diversifikasi produk yang umum mereka hasilkan. Bahkan, beberapa juga sudah merambah web untuk menebar rampai aksaranya.

Kreativitas selalu punya jalan untuk lahir dan menjelma. Bentuk media yang tak jamak juga muncul dari ide nakal mereka. Koran tempel menjadi alternatif baru LPM untuk menyalurkan opini. Kobar-Kobari, Koran Balairung, Bulaksumur Pos, adalah beberapa dari media alternatif yang cukup banyak dibincangkan. Lagi-lagi dari Jokja. Koran-koran tempel itu wujud lahirnya tak jauh beda dengan pamflet-pamflet tempel yang sering “menghias” pemandangan polos tembok-tembok kampus. Oplah terbitnya juga lumayan terbatas, berkisar 100-150 eksemplar. Rupanya, bentuk alternatif inipun cukup banyak dilirik organisasi-organisasi mahasiswa. Tak kurang, KampusDua (www.kampusdua.org) yang mengawali kiprahnya di internet juga mengadopsinya untuk lebih mendekati publik offsite-nya di Malang.

Tumbuh-kembang lembaga-lembaga pers mahasiswa juga jadi variabel penting dalam katalisasi reformasi. Paling tidak, ia sudah menyumbang peran dalam orde-orde transisi di negeri ini. Peneliti macam F Raillon (Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia, LP3ES, Jakarta: 1985) misalnya, bahkan menilai, untuk memahami gerakan Angkatan '66 orang harus membaca Mahasiswa Indonesia – sebuah media independen terbitan mahasiswa yang cukup berpengaruh saat itu. Gerakan mahasiswa, terekam dalam rupa rerampai aksara yang diterbitkannya. Esensi penilaian itu masih berlaku bagi saat terkini.

Sesuai sifatnya sebagai media alternatif, nuansa pemberontakan muncul begitu pekat dalam potret media-media itu. Pada masa rezim represif, pers mahasiswa memposisi sebagai media koar revolusioner. Di orde yang berangin liberal—di mana pers umum lebih leluasa lingsir memenuhi selera pasar, pegiat pers alternatif harus mati-matian mempertahankan stamina mental idealisnya. Merugi finansial bukan masalah besar, yang penting bisa tetap hidupdengan sepercik kebanggaan.

Nuansa idealis inilah yang agaknya membuat media besar macam mingguan Time (edisi 30 Maret 1998, di bawah judul “Behind The Scenes”) menyebutnya sebagai salah satu "pendukung yang tak terduga" dari aksi-aksi unjuk rasa di seantero nusantara kala itu. LPM- LPM juga menjadi narasumber pilihan yang dipercaya media-media negara manca seperti Time dan The Asian Wallstreet Journal di masa golak negeri zamrud khatulistiwa.

“Go international”nya aktivis LPM bukannya terjadi begitu saja. Lazimnya komunitas bawah tanah, keberadaan jemaring kontak yang rapat antar komunitas adalah tarikan napas penyambung hidupnya. Tak heran jika satu tulisan yang dimuat dalam satu media mahasiswa di Jokja bisa juga termuat di salah satu majalah kampus yang terbit di Malang. Komunitas bawah tanah ini rupanya cukup diuntungkan dengan tersedianya fasilitas komunikasi mondial macam internet. Mailing list (milis) pegiat-pegiat kampus terbukti memiliki volume lalu-lalang yang cukup fantastis.

Dunia penerbitan alternatif telah cukup lama ada dan menjadi candradimuka para pendekar dunia aksara. Kenyataan itu yang kemudian menggugah Goenawan Mohammad melalui ISAI (Institut Studi Arus Informasi) yang didirikannya, melirik ranah gerak media kampus. Menurutnya, kebebasan pers bisa dijaga dengan lebih baik oleh wartawan-wartawan yang justru terlatih secara profesional.

Pelatihan-pelatihan untuk media kampus digelar ISAI menitik pada pengembangan dan perbaikan kemampuan teknis menulis karya jurnalistik. Setidaknya hal ini diharap bisa jadi satu dampingan dari diklat-diklat jurnalistik gelaran LPM yang nuansa politisnya kadang kelewat kental itu.

Idealisme adalah jiwa, dan kemampuan teknis adalah jasad wadagnya. Hal ini selalu menjadi sorotan pemeduli dan pelaku dunia alternatif. Tak terkecuali media-media alternatif. Penyejajaran keduanya secara berdamping, mungkin terlalu ideal. Sehingga, cukup banyaknya media alternatif yang berpenampilan kumuh dan awut-awutan mungkin bisa dimaklumi. Di sisi marketing, bisa jadi kekhasan sifatnya itu justru membuatnya berkesan eksklusif, menggemaskan, dan membuat orang penasaran. Setidaknya, inilah pelangi dunia aksara kita.



 1Referensi
selanjutnya >>
Kirim komentar anda
Jika anda anggota anda bisa kirim komentar. Bila anda ingin mendaftar, silahkan e-mail webmaster@stieken.ac.id
  Menu

Halaman Depan
Berita & Referensi
Kirim Berita
Artikel-Artikel
Forum
File Download
FAQ
Komposisi hari ini
Pesan Antar User
Documents
Artikel HTML
Daftar Link
Register
Account-Ku
Statistik
Hubungi kami


  Redaksi

Semua tulisan dan artikel yang dimuat di sini, sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Bila ingin memuatnya dalam media lain, mohon tuliskan URL kami di bawahnya.

Redaksi: redaksi@endonesa.net

RSS



  Cari & Komunitas

Diskusi via Email

Milis Page


  Organ Baru

  • Indie Comic
    Situs jaringan komik dan distro komik independen Indonesia
  • Jaring Endonesa
    Direktori komunitas dan perseorangan yang giat berkreasi dan berbagi
  • PJ-11
    Merupakan situs mini kru Endonesa.net dan penghuni markas Jl. Puncak Jaya
  • Art4daWorm
    eZine seni dan budaya dari Silluet Art Media
  • cinemaHolic
    website pengamat, penggemar, dan pengkarya sinema mandiri lokal yg gak alergi juga sama produk interlokal :)
  • Malang Studies
    Pustaka Budaya dan Sejarah Malang Raya,dapat juga diakses di www.malang.tk


  Komposisi hari ini



  Login

Login:

Password:

ingatlah aku

Register', Gratis!
Lupa password?

  Users Online

Pengunjung:
0 user yang terdaftar
dan 3 tamu online saat ini.

  Advertorial





  Prakarya

DVCdsign
Siar onLine
IndieTown

Referensi Studi tentang Malang Raya dan Sejarahnya, bisa juga diakses langsung di sini

  Page processed in 0.032 seconds

Endonesa interface v.03
Designed by DVCdsign, @ 2003