Yoseph Yapi Taum *)
"The 1965 revolt in Indonesia led to the deaths of hundreds
of thousands of people accused of communist associations. Tohari asks why there
are so few Indonesian writers who address this tragedy? “The Moral
Responsibility of Indonesian Writers in Dealing with the Human Tragedy in PKI
1965 Revolt” (
http://www.ideaandsociety.acr.edu/pdfs/tohari.pdf/ )
1. Pengantar
Uraian mengenai memori kolektif termasuk dalam bidang kajian yang cukup luas,
yang kini banyak menarik perhatian para pakar sosial politik, sejarah, psikologi
kognitif, dan kebudayaan. Di bidang ilmu sastra, topik pembicaraan ini bukanlah
hal baru. Konsep yang erat pautannya dengan memori kolektif adalah "engaged
literature" (French: littérature engagée), yang berarti sastra yang
bertanggungjawab (literature of commitment). Konsep ini sudah
dipopulerkan sejak berakhirnya Perang Dunia II oleh para eksistensialis,
khususnya Jean-Paul Sastre (Encyclopedia Britanica, 2003). Menurut Sartre,
seniman serius harus memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. "Seseorang
hanya dapat dikatakan ada jika dia memiliki kesadaran untuk terlibat
dalam masalah masyarakatnya," demikian Sartre.
Keterlibatan seniman dalam berbagai masalah yang dihadapi masyarakatnya
memiliki nilai istimewa. Menurut Lucien Goldman, sastrawan besar tidak sekedar
menyampaikan pikirannya sebagai seorang idividu. Dia merepresentasikan pandangan
dunia (world view, weltanschauung) bahkan semangat jaman (spirit of
time) sebuah kelompok masyarakat (Damono, 1977). Dengan demikian, apa yang
dikemukakan sang seniman 'serius' dapat dikategorikan sebagai memori kolektif
sebuah komunitas bangsa.
Contoh karya sastra mutakhir yang paling menonjol sebagai sebuah memori
kolektif adalah karya pengarang termasyur dari Jerman, Guenter Grass, yang juga
penerima Hadiah Nobel 1999 untuk bidang sastra. Grass yang dipandang sebagai
penyair dan pengarang Jerman terpenting sejak pertengahan kedua abad-20—bahkan
dijuluki sebagai poeta politicus (seniman politik). Karya-karyanya
seperti Im Krebsgang (Gerak Kepiting), Die Blechtrommel (Genderang
Kaleng) dan lainnya bertujuan mengusik ingatan dan hati nurani bangsa Jerman
tentang pengaruh dan akibat buruk rezim Nazi. Karyanya selalu membawa pesan “Gegen
das Vergessen”, artinya “jangan lupa (apa yang telah terjadi supaya tidak
terulang)” (Korah-Go dan Hesdanina Damly, 2000).
Konsekuensi dari konsep engaged literature adalah keterlibatan seniman
dalam ikut menyelesaikan masalah bangsa. Grass, misalnya, menyatakan bahwa tidak
diungkapnya penderitaan fisik dan luka batin bangsa Jerman yang diakibatkan oleh
Perang Dunia II adalah salah satu sebab timbulnya paham Ekstrim-Kanan dan
mengganasnya gerakan kaum Neo-Nazi, terutama di bagian timur Jerman. Karya-karya
sastranya muncul sebagai sinyal Gegen das Vergessen untuk mengatasi
masalah urgen yang dihadapi bangsa Jerman.
Salah satu masalah urgen bangsa kita adalah rekonsiliasi nasional (lihat
Santikarma, 2003). Masalah rekonsiliasi nasional pada awal tergulingnya regim
Orde Baru sangat marak dihembuskan oleh para aktivis HAM. Rekonsiliasi nasional
terutama berisi sebuah tekanan untuk memulihkan hak dan martabat para korban
pembantaian komunis 1965 beserta keluarganya. Rekonsiliasi sejati hanya dapat
dilaksanakan bila kita mau merevisi pikiran kita dalam hubungannya dengan
sejarah, diri kita sendiri, dan dengan sesama kita. Jalan rekonsiliasi tidak
saja melewati forum politik sebagai satu-satunya pilihan. Bagi saya, ada banyak
jalan lain menuju rekonsiliasi nasional itu, seperti forum sosial-historis dan
forum sosial-kultural.
Dalam tulisan ini, akan dibahas hubungan antara memori kolektif yang dibangun
Ahmad Tohari melalui Ronggeng Dukuh Paruk dan proses menuju rekonsiliasi
bangsa.
|