Ronggeng Dukuh Paruk adalah karya sastra adiluhung yang mampu menyentuh hati
nurani kita secara lembut. Karya yang mampu membangun jembatan pengertian dan
kemanusiaan. Mengajak kita berpihak pada substansi kemanusiaan itu sendiri,
bukan pada kulit, simbol, partai, golongan, suku, agama, ras, golongan.
RDP mampu membangunkan dalam diri kita rasa empati, “senasib sepenanggungan.”
Membaca karya sastra semacam ini membuat kita mampu memahami segenap perjuangan
tokoh-tokoh yang dilukiskannya. Kita turut bergembira dengan
kemenangan-kemenangan yang mereka raih, dan turut bersedih dengan
kegagalan-kegagalan yang mereka alami. Melaluinya kita mengenal diri kita
sendiri pada tokoh-tokoh yang kita baca. Seperti Rasus kita semua pun merasakan
“keteduhan” itu, ketika kita mengetahui keputusan bulat Rasus mengambil Srintil
yang gila sebagai istrinya.
Ketika membaca sastra, dunia kita diperluas, menembus dan melampaui
batas-batas duniawi yang terdapat di sekitar diri kita. Empati merupakan
landasan yang paling mendasar bagi proses pembinaan bangsa, karena empati akan
menimbulkan toleransi. Toleransi adalah kemampuan untuk menerima dan mengakui
keabsahan suatu perbedaan dan dengan demikian toleransi merupakan suatu landasan
bagi terciptanya suatu hubungan damai, baik dalam diri suatu bangsa, maupun
antara bangsa-bangsa. Masalah ini merupakan persoalan inti dari upaya
pembangunan itu sendiri (Soedjatmoko, 1986).
RDP adalah sebuah pendekatan kemanusiaan terhadap sejarah kelam bangsa ini.
Dia menggugah memori kolektif kita sebagai bangsa untuk tidak mengulangi
kesalahan yang sama. RDP mengingatkan kita bahwa sesama manusia, apapun latar
belakang politik, ideologi, agama, ras, golongan, bahasa, dll. merupakan
fellow traveler (rekan seperjalanan) kita menuju ke haribaan-Nya.
Barangkali kita perlu memulai menapaki dan membuka forum sosial historis dan
sosial kultural ini dulu untuk menuju ke jalan panjang rekonsiliasi kita. Ahmad
Tohari sudah memulainya dengan manis melalui Ronggeng Dukuh Paruk. ***
Acuan Pokok
Damono, Sapardi Djoko. 1977. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas.
Jakarta: Depdikbud.
Encyclopedia Britanica, 2003.
http://www.encyclopaedia.britanica/article.htm/
Korah-Go Elisabeth dan Hesdanina Damly, 2002. “Gunter Grass, Gegen das
Vergessen dan Im Krebsgang”. Makalah Seminar HISKI – UAD Yogyakarta.
Oei Tjoe Tat, 1995. Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno.
Jakarta: Hasta Mitra.
Rappaport, (1990). Jews in Germany After the Holocaust: Memory, Identity,
and Jewish German Relation.
http://www.ifla.org/VI/ifla62/62-abhr.htm
Santikarma, Degung. "Kehilangan Rekonsiliasi" dalam Kompas, 28
September 2003.
Soedjatmoko, 1986. “Ilmu-ilmu Kemanusiaan dan Masalah Pembangunan”
Makalah Kunci dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional IV, Jakarta.
Toer, Pramoedya Ananta., 2001. “Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer kepala
Keith Foulcher. Majalah Kreasi, Nomor 4, Tahun 2001
http://www.xs4all.nl/~badjasur/kreasi/no4/suratno4.htm
Tohari, Ahmad, 2003. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
University of California Riverside. 2003. “The Moral Responsibility of
Indonesian Writers in Dealing with the Human Tragedy in PKI 1965 Revolt”
dalam “Idea and Society”. Downloaded at April 2003.
http://www.ideaandsociety.acr.edu/pdfs/tohari.pdf/
Yvette Johnson, Cassandra, (1995). Collective Memory and Afro-German
Experience.
http://www.hallgovernment.com/politics/902.shtml/
(Yoseph Yapi Taum, Dosen Prodi Sastra
Indonesia F. Sastra Universitas Sanata Dharma. Sedang melakukan penelitian ASF
2003-2004 mengenai Collective Cambodian Memories of the Pol Pot Khmer Rouge
Regime di Kamboja)

"Seorang perempuan sedang disiksa oleh Khmer Merah." Lukisan Vann Nath,
seorang Survivor Tuol Sleng Khmer Merah. (Foto: Yoseph Yapi Taum)
|