:: Halaman Depan  :: Berita & Referensi  :: Kirim Berita  :: Artikel-Artikel  :: Forum  :: File Download  :: FAQ  :: Komposisi hari ini 
 
NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK SEBAGAI MEMORI KOLEKTIF DAN ALAT REKONSILIASI BANGSA
Diposting oleh redaksi15/03/2004
4. Penutup

Ronggeng Dukuh Paruk adalah karya sastra adiluhung yang mampu menyentuh hati nurani kita secara lembut. Karya yang mampu membangun jembatan pengertian dan kemanusiaan. Mengajak kita berpihak pada substansi kemanusiaan itu sendiri, bukan pada kulit, simbol, partai, golongan, suku, agama, ras, golongan.

RDP mampu membangunkan dalam diri kita rasa empati, “senasib sepenanggungan.” Membaca karya sastra semacam ini membuat kita mampu memahami segenap perjuangan tokoh-tokoh yang dilukiskannya. Kita turut bergembira dengan kemenangan-kemenangan yang mereka raih, dan turut bersedih dengan kegagalan-kegagalan yang mereka alami. Melaluinya kita mengenal diri kita sendiri pada tokoh-tokoh yang kita baca. Seperti Rasus kita semua pun merasakan “keteduhan” itu, ketika kita mengetahui keputusan bulat Rasus mengambil Srintil yang gila sebagai istrinya.

Ketika membaca sastra, dunia kita diperluas, menembus dan melampaui batas-batas duniawi yang terdapat di sekitar diri kita. Empati merupakan landasan yang paling mendasar bagi proses pembinaan bangsa, karena empati akan menimbulkan toleransi. Toleransi adalah kemampuan untuk menerima dan mengakui keabsahan suatu perbedaan dan dengan demikian toleransi merupakan suatu landasan bagi terciptanya suatu hubungan damai, baik dalam diri suatu bangsa, maupun antara bangsa-bangsa. Masalah ini merupakan persoalan inti dari upaya pembangunan itu sendiri (Soedjatmoko, 1986).

RDP adalah sebuah pendekatan kemanusiaan terhadap sejarah kelam bangsa ini. Dia menggugah memori kolektif kita sebagai bangsa untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. RDP mengingatkan kita bahwa sesama manusia, apapun latar belakang politik, ideologi, agama, ras, golongan, bahasa, dll. merupakan fellow traveler (rekan seperjalanan) kita menuju ke haribaan-Nya.

Barangkali kita perlu memulai menapaki dan membuka forum sosial historis dan sosial kultural ini dulu untuk menuju ke jalan panjang rekonsiliasi kita. Ahmad Tohari sudah memulainya dengan manis melalui Ronggeng Dukuh Paruk. ***


Acuan Pokok

Damono, Sapardi Djoko. 1977. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Depdikbud.

Encyclopedia Britanica, 2003.
http://www.encyclopaedia.britanica/article.htm/

Korah-Go Elisabeth dan Hesdanina Damly, 2002. “Gunter Grass, Gegen das Vergessen dan Im Krebsgang”. Makalah Seminar HISKI – UAD Yogyakarta.

Oei Tjoe Tat, 1995. Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno. Jakarta: Hasta Mitra.

Rappaport, (1990). Jews in Germany After the Holocaust: Memory, Identity, and Jewish German Relation.
http://www.ifla.org/VI/ifla62/62-abhr.htm

Santikarma, Degung. "Kehilangan Rekonsiliasi" dalam Kompas, 28 September 2003.

Soedjatmoko, 1986. “Ilmu-ilmu Kemanusiaan dan Masalah Pembangunan” Makalah Kunci dalam Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional IV, Jakarta.

Toer, Pramoedya Ananta., 2001. “Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer kepala Keith Foulcher. Majalah Kreasi, Nomor 4, Tahun 2001
http://www.xs4all.nl/~badjasur/kreasi/no4/suratno4.htm

Tohari, Ahmad, 2003. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

University of California Riverside. 2003. “The Moral Responsibility of Indonesian Writers in Dealing with the Human Tragedy in PKI 1965 Revolt” dalam “Idea and Society”. Downloaded at April 2003.
http://www.ideaandsociety.acr.edu/pdfs/tohari.pdf/

Yvette Johnson, Cassandra, (1995). Collective Memory and Afro-German Experience.
http://www.hallgovernment.com/politics/902.shtml/


(Yoseph Yapi Taum, Dosen Prodi Sastra Indonesia F. Sastra Universitas Sanata Dharma. Sedang melakukan penelitian ASF 2003-2004 mengenai Collective Cambodian Memories of the Pol Pot Khmer Rouge Regime di Kamboja)


"Seorang perempuan sedang disiksa oleh Khmer Merah." Lukisan Vann Nath, seorang Survivor Tuol Sleng Khmer Merah. (Foto: Yoseph Yapi Taum)
 



3.5 Ronggeng Dukuh P...
<< sebelumnya
9 
komentar
25/03/2004 01:29 - tarsihekaputra
sebuah kaca yang mampu memantulkan wajah realita yang terurai satu, dua dan tiga menjadi sebuah trilogi yang tentu saya tak bisa bilang tidak untuk menyatakan bahwa novel karya Ahmad Tohari bakal dijadikan sebagai memori kolektif dan alaat rekonsiliasi
 
Kirim komentar anda
Jika anda anggota anda bisa kirim komentar. Bila anda ingin mendaftar, silahkan e-mail webmaster@stieken.ac.id
  Menu

Halaman Depan
Berita & Referensi
Kirim Berita
Artikel-Artikel
Forum
File Download
FAQ
Komposisi hari ini
Pesan Antar User
Documents
Artikel HTML
Daftar Link
Register
Account-Ku
Statistik
Hubungi kami


  Redaksi

Semua tulisan dan artikel yang dimuat di sini, sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Bila ingin memuatnya dalam media lain, mohon tuliskan URL kami di bawahnya.

Redaksi: redaksi@endonesa.net

RSS



  Cari & Komunitas

Diskusi via Email

Milis Page


  Organ Baru

  • Indie Comic
    Situs jaringan komik dan distro komik independen Indonesia
  • Jaring Endonesa
    Direktori komunitas dan perseorangan yang giat berkreasi dan berbagi
  • PJ-11
    Merupakan situs mini kru Endonesa.net dan penghuni markas Jl. Puncak Jaya
  • Art4daWorm
    eZine seni dan budaya dari Silluet Art Media
  • cinemaHolic
    website pengamat, penggemar, dan pengkarya sinema mandiri lokal yg gak alergi juga sama produk interlokal :)
  • Malang Studies
    Pustaka Budaya dan Sejarah Malang Raya,dapat juga diakses di www.malang.tk


  Komposisi hari ini



  Login

Login:

Password:

ingatlah aku

Register', Gratis!
Lupa password?

  Users Online

Pengunjung:
0 user yang terdaftar
dan 3 tamu online saat ini.

  Advertorial





  Prakarya

DVCdsign
Siar onLine
IndieTown

Referensi Studi tentang Malang Raya dan Sejarahnya, bisa juga diakses langsung di sini

  Page processed in 0.018 seconds

Endonesa interface v.03
Designed by DVCdsign, @ 2003