Destruksi Kreatif?
Terkadang saya melamunkan antropologi dengan sebuah bangun geometri fraktal. Jika bangun budaya bisa diumpamakan seperti fenomena geometri fraktal, kita layak curiga dengan dinamika kebudayaan itu. Atau, jika bukan fraktal, mungkin sejenis virus komputer metamorfik (metamorphic code) hahaha
Walau tak sama persis, eksperimen budaya kita seperti sampai ke milestone sejarah Amerika dekade 60-an. Era itu mengingatkan sejarah negeri Paman Sam pada pergerakan perjuangan hak masyarakat sipil; dinamika politik yang luar biasa (dengan ekskalasi ekstra pasca pembunuhan Kennedy); problem ekonomi karena Stagflasi, pengangguran, dan krisis minyak; serta perang Vietnam yang mendorong Kontrakultura kaum muda.
Kenapa menjadikan Amerika sebagai sampel dlm hal ini?
Pertama karena banyaknya kesamaan. Budayanya yang heterogen—dengan teritorinya yg luas, arah perkembangan politiknya yg terbuka dan demokratis, sama2 kapitalistik ekonominya,sama2 eks-koloni, menjadikan media massa sebagai motor kebudayaan; dan dengan ge-er saya sebut sama2 menjadi ‘kiblat’ budaya di kawasannya.
Kedua, karena USA adalah ‘kiblat’ budaya mondial. Kemudian, kembali ke fenomena geometri fraktal, secara pelan (walau dg sedih harus diakui) kita makin sesuai disebut copy-an fraktalnya Amerika dalam wajah Asia(—sampai2 kampanye capresnya banyak mencontek Obama, hahaha).
Tapi, syukurlah saat ini (dengan membesarkan hati) kita belum sepenuhnya american. ‘Eksperimen’ budaya kita lebih smooth karena tak punya common enemy —sebagai katalis—seperti di saat itu USA memusuhi Vietnam dan Cuba, dan mengerjai Korea. Namun, kapitalisme industri kreatif kita mungkin lebih liar.
Mungkin karena belum punya kebiasaan mengkonservasi produk budaya, apapun trend yang sekarang menimpa, di saat kemudian akan berlalu demikian saja sebagai bagian dari arus pop. Produk musik dan film kita seperti mengalami ‘innovation saturation’ — atau bahkan lebih radikal: creative destruction.
Ataukah, iklim konservatorisme budaya memang membutuhkan kapitalisme yang lebih mapan?
1 Comment
Comment by Esa Wibo (sugeng)
waduh makek bahasa-bahasa berat,… tapi saya suka kalimat itu lho.’menjadi kiblat budaya di kawasannya’