Eksperimen Budaya: Menjadi tuan rumah di negeri sendiri

Author
Posted by admin at 8:32 AM EDT
Category
Filed under Musik
Keywords
Tagged with , , ,

Satu dekade lampau, kita masih belum bisa mengatakan industri hiburan telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kini, kita bisa mengatakannya dengan lantang dan penuh keyakinan. Ya, musik dan film kita telah menjadi penguasa dalam atmosfer budaya keindonesiaan kita.

Rasa2nya, motor pergerakan itu adalah teknologi digital—yang kemudian mendorong kemunculan regulasi nan ramah media. Teknologi membuat perseorangan dan kelompok kecil punya kekuatan dalam memproduksi dan mereproduksi produk informasi. Kabar baiknya, keberadaan teknologi itu juga makin terjangkau secara ekonomis.

Bermodalkan seperangkat komputer yang tak bagus2 amat, dengan audio device alakadarnya plus pemancar, kelompok kecil atau bahkan perseorangan bisa bersiaran radio memanfaatkan kelonggaran regulasi radio komunitas. Anak muda bisa lebih leluasa memproduksi rekaman musik dan video mereka sendiri, dengan perangkat yang ramah rupiah. Belum lagi kalau menyebut media berbasis internet.

Pada dasarnya saya setuju bahwa media memang cuma media. Ia bisa menjanjikan amplifikasi luar biasa atas ide dan persebarannya. Namun, bukankah lebih sering yg terjadi hanyalah proses persebaran dengan pola duplikasi yang membuat produk ide lebih cepat basi.

Mp3 player dalam berbagai bentuknya membuat kita lebih rakus mengumpulkan lagu ‘baru’. Portabilitas dan kemudahannya membuat sebuah lagu baru lebih cepat basi. Lebih cepat lagi proses kebasian itu kalau kita juga konsumen aktif tivi dan radio.

So, sebuah lagu baru bisa begitu cepat terasa membosankan.

Makin cepat membosankan, berarti menjadi ceruk industri musik untuk memenuhi dahaga dengan apa saja melalui berbagai cara…

Kalau diingat2 lagi, awal milenium kita jelajahi dengan eksperimen budaya yang luar biasa (selain karena di saat bersamaan juga menggaungkan reformasi politik). Eksperimen musikalitas massal berganti dengan cepat menjajah pendengaran pop. Mulai yang ngerock, ngejazz, ngepunk dan ska, ngerap plus rnb. Dan setelah jeda dengan pop warna-warni agak panjang, berlabuhlah kita sekarang di era musik pop melayu.

Rasanya seperti bukan kebetulan jika melihat sejarah musik Country juga menemukan kematangannya setelah 30 tahun berkembang di negeri endemiknya. Dan, kalau musik melayu Indonesia berkembang sebagai Dangdut di masa Bang Rhoma (80an), rasanya ndak berlebihan kalau musik pop melayu sekarang, 3 dekade setelah Bang Rhoma adalah masa pematangannya sebagai neo-Dangdut.

Leave a Comment

Name and e-mail address are required. Your e-mail address will not be dislayed with your comment.