Olimpiade Athena 2004 menjadi berbeda selain karena Olimpiade pulang kembali ke tempat penyelenggaraan Olimpiade modern pertama kali di kota Olympia, Yunani pada tahun 1896, Olimpiade Athena 2004 saat ini memasuki koridor seni rupa. Bertepatan dengan momen tersebut, kurang lebih sepuluh hari sejak 20 Agustus 2004 hingga 02 September 2004, Nadi Gallery bekerja sama dengan The Pakubuwono Residence menyelenggarakan pameran seni rupa yang mengusung juluk “Olympics Art Exhibition”.
Dalam pameran yang mengikutsertakan 28 pelukis tersebut menurut Biantoro Tanjung dari Nadi Gallery telah terpikirkan sejak penyelenggaraan Woeld Cup. “Tema Tema sekitar 'bola' rupanya juga digemari oleh beberapa perupa kita, seperti misalnya Tisna Sanjaya yang memang pemain bola atau Bunga Jeruk yang melukiskan pemain bola idolanya” tambahnya.
Lebih lanjut Enin Suprianto selaku kurator menjelaskan bahwa, secara umum karya-karya yang hadir dalam pameran tersebut berhasil mengambil jarak yang cukup jauh untuk mampu menghadirkan soal-soal yang tidak melulu berkisar pada olahraga dan tubuh. Dengan berjarak dan menjauh dari tema ‘stereotype’ seputar olahraga, dengan berbagai cara dan pendekatan, para perupa ini berhasil merentang perspektif dan wilayah tafsir yang luas, menjangkau berbagai dimensi makna yang melampaui peristiwa olahraga itu sendiri.
Para perupa yang sering malang melintang di dunia seni rupa seperti Agus Suwage, Heri Dono, Astari Rasjid, tisna Sanjaya dan lain sebagainya ikut serta menyemarakkan event tersebut dengan menampilkan karya-karyanya tanpa dibatasi tema yang dipatok oleh pihak panitia penyelenggara. Ada yang kontradiktif dengan pesan Olimpiade itu sendiri dengan menolak kepatuhan terhadap kebugaran tubuh seperti pada karya lukisan Ugo Untoro yang menampilkan figure orang yang sedang merokok. Atau ketika kita melihat karya Agus Suwage yang secara satiris mengolok-olok ketakmampuan tim nasional kita menyamai prestasi Susi Susanti ketika menyabet medali emas di Olimpiade Barcelona tahun 1992 lalu. Lain lagi dengan Entang Wiharsa, ia memilih untuk menginterprestasi kegamangan kita sebagai bangsa yang suka dipuji lewat karyanya yang menampilkan lukisan manusia telanjang yang kehilangan jempolnya.
Perupa lainnya seperti Budi Kustarto, ia menekankan pentingnya sesuatu yang kecil karena bisa berdampak besar dengan menampilkan penokohan tentang capung sebagai gambaran sesuatu yang kecil divisualkan ribuan kali lebih besar sedang bertanding melawan manusia. Seperti halnya Entang, Samuel Indratma juga bermetafor tentang ketakberdayaan kita dalam menghadapi kekalahan melalui karya patungnya dengan figur manusia bertuliskan “Kita Harus Menang”.
Astari Rasjid sebagai salah satu perupa wanita dalam pameran tersebut sepertinya lebih memilih local idiom. Dalam lukisannya yang berjudul waiting for ratu adil, ia memvisualkan ratu adil dalam wujud manusia era Jawa Hindu yang berkelamin wanita dengan posisi di tengah-tengan dua petinju yang sarat simbul dari ego sebuah negara adidayaya. Nafas feminitas nampak sengaja dikedepankan, bagaimana mahluk lemah ini mempermainkan perannya. Bagaimana karya perupa lainnya?
Mitologi yunani dan sejarah olimpiade dicoba disandingkan dengan kontekstualitas kekinian. Hal ini bisa ditengok lewat karya perupa Andy Dipo. Ia melukiskan seorang pelempar cakram letoy yang terantuk – antuk batu dan dikepung oleh berita – berita bursa saham sebagai sebuah simbul kapitalisme yang merajai ekonomi kita. Sungguh ironis paradoks ini!
Berbicara tentang pembingkaian kuratorial pameran, ada aspek yang mungkin lepas dari pengamatan sang kurator. Terutama sekali, dengan secara sengaja meninggalkan prinsip instrumentalisme dalam kajian kritik seni rupa. Sebuah karya boleh saja menawarkan metafor, ambigiutas dan multi abstraksi dalam muatan estetika karyanya dari sisi bingkai formalnya. Secara fisik atau pikturialnya, kita bisa mendeteksinya secara langsung.
Sedangkan sisi psikis, yakni representasi emosi dan intuisi sang seniman dengan ungkapan – ungkapan pribadinya, yang familiar dengan sebutan pendekatan ekspresi telah terwakili juga dalam pameran ini. Seperti yang disebutkan oleh Enin, sampai dua kali ia bersentuhan langsung dengan para perupanya untuk memberikan penawaran tema kuratorial untuk ditafsirkan secara bebas dan personal. Hanya pendekatan historis, atau instrumentalitas dalam konteks ini, yaitu muatan lokalitas yang berelasi dengan elemen olah raga tidak menampakkan jalinan naratifnya sama sekali. Hampir semua perupa kita mengangkat tema-tema dengan nilai global dan hanya beberapa perupa kita seperti Ugo Untoro, Tjandra Alim, Heri Dono serta Astari yang masih menunjukkan keintiman dan dengan intens mengeksplorasi nilai – nilai lokal. Namun, sebagai sebuah pameran yang mencoba mengusung dan merayakan pesta olahraga dengan konvensi universal, nampaknya telah cukup layak dipertontonkan. Di sini yang lebih penting bukanlah siapa yang akan tampil sebagai pemenang, melainkan bagaimana semangat perjuangan kita untuk tetap berperan serta dan berusaha menghargai kekalahan sekalipun. Tak melulu hanya pemenang saja yang berhak mendapatkan tempat, tetapi yang kalah juga memiliki hak yang sama.
Tarsih Ekaputra
Freelance journalist/writer