Bahasa Kamboja (Khmer) termasuk bahasa yang sulit. Seperti kebanyakan
bahasa di negara Asia lainnya – seperti Thailand, India, Cina, Jepang, dll,
bahasa Kamboja memiliki skript tersendiri yang tidak dengan pas dapat ditulis
dengan skript latin. Abjadnya lebih banyak dan kosa kata biasanya terdiri dari
gabungan beberapa hurup hidup, menciptakan bunyi yang agak mirip dengan bahasa
Aceh. Kesalahan pengucapan sedikit saja, atau kesalahan harkat, bisa menyebabkan
orang salah faham atau bahkan tidak mengerti sama sekali.

Mayoritas penduduk Kamboja beragama Budha. Para monk
yang mendatangi setiap rumah untuk mengumpulkan sedekah menjadi
pemandangan rutin setiap pagi. Photo oleh penulis |
Makanan juga merepotkan karena cita rasa masakan tradisional di
sini beda dengan selera Indonesia. Kebanyakan lauk terasa asam, kecut atau manis,
dan beraroma lain karena dicampur dengan daunan husus (tapi masakan modern yang
ada di rumah makan yang lebih baik tidak seperti ini). Ada juga menu yang
aneh-aneh seperti telur bebek yang hampir menetas (mereka sebut pong tie k’oon).
Telur yang didalamnya sudah ada cabang bayi bebek ini biasanya direbus dan
disajikan dengan sejenis salad dan beberapa saus. Ada juga keong rebus, jangkrik
goreng dan laba-laba goreng. Mungin pengalaman pahit dan kelangkaan makanan
ketika hidup di masa kepemimpinan Khmer Rouge membuat rakyat Kamboja mudah
beradaptasi dengan berbagai jenis makanan.
Tapi bagi seorang Muslim, yang lebih menyusahkan lagi adalah karena hampir
tidak ada rumah makan, mulai dari kedai kaki lima hingga restoran mewah, yang
tidak menyediakan daging babi (satc cruk), dan jarang ada jenis makanan
tanpa campuran daging babi, termasuk roti isi, mie, sup dan nasi goreng. Berbeda
dengan beberapa negara Eropa seperti Belanda dan Perancis dimana seorang Muslim
tidak sukar menemukan masakan Muslim (di restoran Indonesia, Maroko, atau
Alzajair), Kamboja tidak memberikan banyak pilihan bagi Muslim. Di Phnom Penh,
ibu kota Kamboja, hanya ada satu restoran Indonesia, Bali Café. Selain kedai
yang terdapat di pemukiman komunitas Muslim, di Phnom Penh praktis tidak ada
tempat yang menyediakan makanan Muslim.
Dengan pilihan yang sangat terbatas, ada satu jenis café Kamboja yang
relatif aman bagi seorang Muslim. Mereka menyebutnya satc ko phneum pleung
- tempat bakar-bakar daging sapi. Barbeque ala Kamboja ini ada di
beberapa sudut kota Phnom Penh. Pelanggan hanya diberi bahan mentah: daging sapi,
cumi-cumi atau udang plus sayuran mentah seperti timun, paprika, wortel, kol,
bawang bombay dan beberapa jenis daun lalapan. Di masing-masing meja disediakan
kompor gas bakar kecil dan bahan-bahan tadi, lalu pelanggan mengolah sendiri
bahan tersebut menurut seleranya.
Untuk masalah makan, jalan teraman, namun tidak praktis, adalah self-catering.
Daging yang disembelih secara Islam terdapat di tiga pasar di Phnom Penh, dan
ikan ada dijual di semua pasar tradisional. Jalan aman lainnya adalah mencoba
bertahan hidup dengan mengkonsumsi roti, keju dan susu yang dapat di beli dari
beberapa super market dan bakery di pusat kota.

Satch ko phneum pleung. Photo oleh penulis |
Remaja puterinya? Ini termasuk salah satu keanehan disini. Secara umum, ada
dua jenis remaja puteri disini, remaja puteri rumahan dan remaja puteri murahan.
Perbedaan antara keduanya ibarat langit dengan bumi. Di antara kedua jenis ini
juga ada, tetapi tidak banyak. Mayoritas remaja puteri Kamboja adalah remaja
puteri rumahan yang sangat konservatif dalam masalah hubungan dengan cowok.
Mereka sangat menjaga sikap, menjaga norma, dan kelihatan untouchable.
Perilaku seperti ini merupakan bagian dari refleksi pepatah tradisional mereka
“Perempuan ibarat kain putih” yang tidak akan pernah kembali seputih
asalnya jika telah ternoda. Jika remaja puteri rumahan ini diajak jalan, dia
pasti bawa teman-teman, adik atau kakaknya, jadi seperti acara kenduri/slametan.
Makan atau nonton berdua dengan lawan jenis yang bukan muhrim bukan merupakan
tradisi disini. Meskipun ada sebagian kecil yang melakukannya, tapi yang pasti
itu bukan mainstream, dan remaja puteri yang mau diajak makan atau nonton
berdua dicap srey ot la’or, cewek nakal.
Remaja puteri jenis kedua, remaja puteri murahan (komersial), juga lumayan
banyak (satu penelitian menunjukkan bahwa di Phnom Penh, dengan populasi sekitar
satu juta orang, terdapat 10.000 – 20.000 pekerja seks komersial/PSK). PSK ini
ada di banyak tempat mulai dari rumah bordil, panti pijat, hotel, guest house,
bar, karaoke room, café, hingga di kedai kopi. Dengan hanya berjalan kaki lebih
kurang 20 menit dari sudut mana saja di Phnom Penh, setiap orang mungkin akan
menemukan tempat seperti ini. Sebagian remaja puteri jenis ini memang PSK,
sebagiannya lagi cuma pelayan restoran, bar girl, tukang pijat, atau teman
nyanyi di karaoke tapi banyak yang siap berbisnis mesum. Ini salah satu penyebab
tingginya tingkat infeksi HIV di negara ini (penelitian mengindikasikan saat ini
200.000 orang terinfeksi HIV di Kamboja, jumlah yang sangat tinggi dibandingkan
dengan total populasi yang hanya 13.5 juta orang).
Berada dalam satu wilayah regional Asia Tenggara, Kamboja memiliki banyak
kemiripan dengan Indonesia. Wajah penduduk asli Kamboja bisa dikatakan sama
dengan kebanyakan orang Indonesia, kecuali keturunan Cina atau Vietnam yang juga
ada disini. Suasana alamnya juga hampir sama, termasuk cuacanya, daratannya,
tumbuh-tumbuhan dan satwa. Secara fisik orang Indonesia mungkin tidak akan
merasa berada diluar negeri ketika berada di negeri ini. Budayanya juga banyak
kemiripan. Banyak kostum penari tradisional Kamboja yang mirip dengan tarian
kostum tarian Bali. Dan Angkor Wat yang sangat mengagumkan itu juga mirip dengan
Borobudur dan Prambanan. Ada hubungan historis yang erat antara Indonesia dan
Kamboja di masa dinasti Jayavarman.
Sejarah politisnya juga ada kemiripan. Di Indonesia pernah terjadi
pembantaian terhadap warga yang dianggap komunis. Sepuluh tahun setelah tragedi
di Indonesia, di Kamboja juga terjadi pembantaian terhadap hampir 2 juta orang
dalam kurun waktu empat tahun, 1975-1979, oleh komunis Khmer Rouge yang dipimpin
Pol Pot. Pembantaian itu bukan hanya terhadap manusia (yang menjadi target
utamanya adalah orang terpelajar, orang kota, dan tentara pemerintah sebelumnya
beserta seluruh anggota keluarganya), tapi juga terhadap sistem sosial dan
politis. Semua sekolah ditutup, praktek keagamaan dilarang, tekhnologi
dihancurkan, kekerabatan ditiadakan, dan organisasi dibubarkan. Setiap orang,
termasuk anak umur 6 tahun, dipaksa membuka hutan, mengolah lahan pertanian padi
dan buat irigasi. Yang membangkang pasti (istilah mereka) di re-educated,
bukan dididik tapi dibunuh. Khmer Rouge punya semboyan “to keep you no
gain, to kill you no loose” (Membiarkan kamu hidup tidak ada gunanya,
membunuhmu tidak ada ruginya); dan “to destroy ten comrades is better than
to keep one enemy” (Membunuh sepuluh orang teman lebih bagus dari pada
membiarkan seorang musuh hidup). Makan dijatah secara komunal dan setiap orang
hanya dapat bubur nasi, kecuali anggota Khmer Rouge yang bisa makan normal di
rumah atau baraknya. Kelaparan, penyakit, dan kematian menjadi pemandangan
setiap hari pada masa itu. Saat itu Kamboja seolah olah hilang dari peta dunia,
dan periode itu disebut Year Zero.
Negara ini memang baru saja mencoba mulai masuk kembali ke peradaban normal,
dan sangat tergantung dengan bantuan lembaga internasional dan negara donor.
Tahun 2001 ada sebanyak 482 organisasi internasional dan LSM yang terdaftar
dalam Cooperation Committee for Cambodia, dan ini belum mencakup seluruh
organisasi yang bekerja sama membantu negara ini. Mungkin ini salah satu
penjelasan mengapa LSM (Ongka) lokal, nasional, regional dan
internasional memiliki privilege tersendiri dan disegani di negara ini.
Plat kenderaannya dibuat khusus, warna biru tua, dan kenderaan seperti ini bebas
dari razia polisi lalu lintas.
Dibandingkan dengan Indonesia, Kamboja lebih parah dalam banyak hal.
Pendapatan perkapita masyarakat disini (US$ 260) tidak sampai setengah dari
pendapatan perkapita penduduk Indonesia (US$ 560, data tahun 2000). Kesenjangan
sosial kelihatan lebih menyolok (di Phnom Penh, Land Cruiser kelihatan seperti
Kijang Kapsul di banyak kota di Indonesia, tapi setiap saat kita juga lihat
banyak penduduk kota naik sepeda motor Astuti, dan pengemis – termasuk orang
tua dan anak jalanan – ada di setiap sudut jalan). Fasilitas umum tidak
memadai (rumah sakit yang dianggap bagus hanya ada di Phnom Penh, kereta api
hanya kelas ekonomi, ATM hampir tidak ada, telephon umum sangat terbatas, bis
umum hanya melayani angkutan antar kota dan provinsi, banyak jalan belum
beraspal – apalagi kalau sudah di luar Phnom Penh). Supremasi hukum sangat
lemah. Korupsi menjadi tradisi. Senjata api dan narkoba bukan barang langka.
Tapi bagaimanapun, kejanggalan dan ketimpangan dalam satu sistem sosial hanya
terasa ketika seseorang bisa melakukan perbandingan. Bagi masyarakat Kamboja
yang telah mengalami masa sulit di masa perang yang berkepanjangan dan
pemerintahan Khmer Rouge, kehidupan di Kamboja saat ini jelas jauh lebih baik***
Rustam
Pakpahan
Penulis adalah Peneliti pada Pusat
Penelitian IAIN Sumatera Utara/ Research Center of State Institute for Islamic
Studies of North Sumatera