Seperti namanya Jambore Seni Rupa Nasional merupakan pesta besar seni rupa, yang di dalamnya para seniman, kolektor, kritikus, pejabat, pemilik galeri, pecinta dan peminat seni, berkumpul dan berinteraksi
secara aktif melalui berbagai acara yagn diselenggarakan, seperti bazaar, workshop, diskusi seni rupa, lomba melukis SD, SMP, SMU se-Jabotabek, berbagai pertunjukan musik, teater, ludruk, film, tari,
melukis bersama, dan talk show sastra. Seluruh rangkaian acara tersebut selain melibatkan nama-nama dan
kelompok yang sudah mapan seperti Kartika, Sudaryono, Tresna Suryawan, Ipong Purnama Sidhi, Merwan Yusuf, Vonny Sumlang, Tamam Husein, Rieke Diah Pitaloka, Eksotika Karmawibangga, Warna, juga nama-nama dan kelompok baru seperti Melancholic Bitch, Cong Piq, Jenda "Spoken", Lapen 151%, Komunitas Musyawarah Burung,Komunitas Bumi Manusia, serta mahasiswa-mahasiswa dari ISI, UGM, Universitas Negeri Jakarta, dan sebagainya.
Untuk tahun ini tema yang diambil adalah "Scopophilia, Hiruk Pikuk Seni Rupa. Scopophilia." Scopophilia dalam wacana budaya visual dipergunakan untuk menunjuk suatu keadaan di mana melihat dan
memandang menjadi sebuah sumber kesenangan. Pengambilan tema ini didasari pada suatu kesadaran bahwa pada saat ini gambar menjadi sebuah realitas yang nyata. Kehidupan manusia telah memasuki masa yang oleh W.J.T. Mitchell disebut pictoral turn.
Dalam realitas seperti itu, melihat dan memandang menjadi terminologi dan metafora utama. Melihat dan memandang kini tak dapat lagi ditilik sebagai sebuah operasi optik atau fotografis yang terberi belaka,
atau komunikasi yang hanya berjalan searah, melainkan sebuah perilaku budaya. Artinya citra dipandang sebagai sebuah tanda visual, bahasa yang-membonceng Sausure-menkonstitusikan makna melalui sistem
perbedaan. Subjek yang memandang dipahami sebagai suatu posisi sosial tertentu, posisioning ini membentuk parameter-parameter bagi sebuah interpretasi. Pembacaan yang berlangsung dalam operasi melihat di sini tersuguh sebagai laku sosial. Bukan berarti hanya menyangkut persoalan-soalan eksternal ruang-ruang sosiologis tempat subjek yang melihat berhuni, namun juga kapasitas subjektif mereka untuk menakik arti, menginterpretasi dan memberi pemaknaan terhadap apa yang mereka lihat, serta bagaimana posisi sosial mempengaruhi pembentukan kapasitas subjektif tersebut.
Berkaitan dengan perkembangan seni rupa Indonesia selama hampir dua dekade ini (1984-2002) pemahaman akan persoalan melihat dan memandang menjadi penting. Seni dalam pengertian sebuah wilayah khusus dan tertutup tak dapat lagi dipertahankan. Wilayah penciptaan pada saat yang sama juga merupakan provinsi konsumsi. Ketika seorang seniman mulai mengangkat tangannya, memindahkan objek dihadapannya atau dalam pikirannya, ia mengambil sesuatu di luar dirinya (the other) sebagai objek konsumsi. Dalam tindak pengkonsumsian tersebut terdapat `sublasi' yaitu terminologi Hegelian untuk tindakan pemberian makna yang di dalamnya obyek konsumsi dipandang sebagai ekspresi atau ekternalisasi diri, sekaligus internalisasi nilai-nilai sosial budaya yang terkandung dalam obyek konsumsi.
Sublasi inilah yang selanjutnya, pada tataran kreator, melahirkan sebuah lukisan, patung, grafis, poster, film, sajak, dan sebagainya. Hal yang sama terjadi pula pada wilayah penikmat atau kolektor,
mereka meletakan karya sang seniman sebagai objek konsumsi, sebagai sumber kesenangan mereka untuk memberikan makna, mengekspresikan dan menyatakan diri mereka, serta menarik nilai-nilai sosial budaya yang terkandung pada karya sang seniman menjadi bagian dari kepribadiannya
Dalam scopophilia, wilayah penciptaan bukan lagi teritori yang tertutup, seni, khusunya seni rupa, dengan segenap pintu yang ada di dalamnya, kini menjadi sebuah sabana luas yang terbuka, tak seorangpun boleh mengklaim kepemilikannya, ia menjadi propinsi yang senantiasa ternoda, ruang massa tanpa hak paten.
Selain itu dengan mengambil "scopophilia" sebagai tema utama, Pasar Seni Ancol mengajak masyarakat Indonesia untuk melangkah ke dalam budaya visual.***
_____________
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
Bapak Sadhono Eka Setiadi
Manager Pasar Seni
Jl. Lodan Timur no. 7 Jakarta 14430
Telp/Fax: (021) 680319 HP: 08128184836
E-mail: pasarseniancol@yahoo.com