Evi Muheriyawan menggambarkan hal ini dengan gamblang. Kenangan masa kecil yang hangat membuat Evi dekat dengan dunia anak berikut semua pernak-perniknya. Lahir dan besar di daerah Majalaya, pria yang sangat “nyunda” ini pertama kali tertarik dengan seni dalam usia dini. Seorang tetangga yang juga pelukis telah ikut andil mengembangkan minat Evi kecil. Dari sini, ia merantau ke pulau Bali pada tahun 1993, demi memuaskan hasratnya belajar melukis.
Berbagai teknik serta interaksi dengan komunitas seni di Bali, belum juga sanggup melepaskan imajinasi masa kecil Evi yang kuat melekat. Teknik lukis dekoratif Kamasan Bali hingga teknik repro karya-karya realis Vermier dan Rembrand-walau sedikit banyak berpengaruh- tetap tidak mengubah cara pandang Evi dalam berkarya.
“Lukisan Evi Muheriyawan sebenarnya lebih dekat pada gambaran corat-coret anak-anak.”, ujar Bambang A. Widjanarko, kurator pameran lukisan Evi. Bila dicermati, kelimapuluh lukisan yang dipamerkan di Hotel Nikko dan Grand Hyatt Jakarta ini menunjukkan proses metaformosis didalamnya. Mula-mula Evi menampakkan kenangan masa kecil yang kuat dalam coretan yang tidak proposional ala anak-anak di tahun 2005. Bahkan, lukisan Adam dan Hawa, diambil dari hasil coretan sketsa anak kandungnya sendiri, yang masih balita.
Oleh sang kurator, gaya lukisan corat-coret anak ala Evi ini cenderung dikelompokkan kedalam aliran naïve. Naïve, dalam paradigma barat seringkali menganggap karakter anak yang spontan, lugu dan emotif sebagai image manusia yang sempurna, yang masih murni dari segi keindahan yang manipulatif dalam dunia dewasa. Gerakan aliran lukis surealisme juga dituding bertanggungjawab memicu aliran naive. Hasrat dan ego yang terpendam dalam diri seorang dewasa, yang kemudian muncul dalam mimpi dan fantasi, melatarbelakangi lukisan yang bergaya kekanak-kanakan.
Latar belakang budaya Sunda juga tampak dalam karya yang dipamerkan mulai dari tanggal 1 sampai 6 Agustus 2006 ini. Menyambut kelahiran sang anak, Evi yang berusia 33 tahun berekspresi dalam sosok gadis kecil dengan permainan sondah (permainan anak kecil di daerah Majalaya), lengkap dengan kehangatan masa kecil yang naïf. Kelahiran sang anak ini merupakan titik tolak bagi Evi, dimana kebebasan personal dari Bali dinyatakan. Pengaruh Sunda mulai mengambil alih dalam Adu Bagong, tahun 2005, dimana tradisi berburu dan mengadu babi hutan di daerah Majalaya dilukis ulang dengan ekspresif, dalam gaya paparan seorang anak.
Sebagai seorang seniman, Evi tidak henti untuk bereksplorasi dalam tema lainnya. Disamping pemaparan keadaan sehari-hari berbumbu memori masa kecil, pameran yang didukung Soka Gallery ini juga menampilkan lukisan bertema kritik sosial.
Kritik sosial muncul dalam sosok manusia dengan wajah yang terbelah dua dengan warna yang berbeda, walau tidak kontras. Disini diisyaratkan bahwa setiap manusia memiliki sisi baik dan buruk, dimana keduanya akan selalu menyatu dalam suatu pribadi. Bermain dengan sosok wajah manusia juga dilakukan menggunakan figur wajah bulat lebar, berhidung pesek namun berambut pirang. Mengisyaratkan sindiran halusnya kepada orang Indonesia yang cenderung kebarat-baratan.
Metaformosis dalam karya Evi terlihat pada akhir tahun 2005, dimana penertiban figur nampak, sebagai usaha memperbaiki komposisi agar enak dilihat. Penertiban ini terlihat dalam penggunaan outline yang lebih tipis, serta figur yang lebih proporsional. Meski demikian, kesan kekanak-kanakan yang naïf dan nakal masih nampak, disertai semakin banyaknya karya bertema kritik sosial.
Kritik sosial juga terungkap dalam Andai Aku Bisa Terbang atau That Crawl It All, menggambarkan ketidaksukaan Evi terhadap kota besar. Kota besar dipandang bersifat eksploitatif pada manusia, sehingga cenderung menghilangkan sisi humanisme. “Kota-kota besar membuat perbedaan strata sosial sangat terasa.Jika di Majalaya hanya terlihat violet dan ungu, maka di kota besar akan terlihat hitam dan putih.” tambah Evi mengungkap metaforanya.
Awal tahun 2006 Evi Muheriyawan memulai perubahan drastis, dengan mengubah gaya lukisannya lebih kearah realis Pengembangan kemampuannya dalam melukis realis saat merepro di Bali,mulai nampak. Permainan gradasi warna, cahaya dan volume yang sangat realis, bergabung dengan kritik ala Evi membuatnya berbeda namun tetap sama dengan karya sebelumnya.
Bambang A.Wijanarko menambahkan bahwa dalam karya-karya mutakhir Evi, cenderung tepat dan sempurna secara fisik dalam kacamata realis. Pengaruh maestro Velasques, Vermier dan Rembrand yang sering dipaparkan dalam kanvas berukuran besar juga nampak dalam karya Evi. Menarik untuk dilihat bagaimana seorang pelukis berlatar belakang Sunda namun mahir merepro lukisan Eropa,berpapar dalam suatu karya yang simbolis. Metafora ini nampak dalam fenomena kehidupan Sunda yang mulai terkoyak globalisasi pada Kesepian atau Masih Kesepian. Selain itu, hubungan harmonis-konflik seniman dengan pemilik modal juga ikut terungkap dalam Ketika yang Diutus Tiba atau Sedang Dipermainkan, dengan medium acrylic atau mix media.
Semua metafora yang diungkap dalam figur anak, sebenarnya merupakan refleksi dari perenungan seorang Evi Muheriyawan. Sebagai seorang seniman yang eksploratif, Evi akan terus bertutur dalam gaya yang konstan ber-evolusi. Budaya Sunda yang halus menyindir, digabung gaya klasik Eropa dalam metafora anak, adalah karakter tersendiri dari pelukis ini.