:: Halaman Depan  :: Berita & Referensi  :: Kirim Berita  :: Artikel-Artikel  :: Forum  :: File Download  :: FAQ  :: Komposisi hari ini 
 
05/09/2006 20:29 - Aliran Naive-Evi Muheriyawan
Dikirim oleh vebymegaindahtulisan lain soal
Seni dan DesainBila dirunut jauh ke belakang, semua pengalaman hidup-termasuk masa kanak-kanak- memiliki peranan krusial dalam kehidupan seseorang .Pengalaman ini yang kerap dijadikan simbol atau lambang dalam mengungkapkan suatu maksud, bahkan juga sindiran. Tak pelak, menjadi permainan para seniman aliran naive dalam mengungkap maksud.
 

Evi Muheriyawan menggambarkan hal ini dengan gamblang. Kenangan masa kecil yang hangat membuat Evi dekat dengan dunia anak berikut semua pernak-perniknya. Lahir dan besar di daerah Majalaya, pria yang sangat “nyunda” ini pertama kali tertarik dengan seni dalam usia dini. Seorang tetangga yang juga pelukis telah ikut andil mengembangkan minat Evi kecil. Dari sini, ia merantau ke pulau Bali pada tahun 1993, demi memuaskan hasratnya belajar melukis.

Berbagai teknik serta interaksi dengan komunitas seni di Bali, belum juga sanggup melepaskan imajinasi masa kecil Evi yang kuat melekat. Teknik lukis dekoratif Kamasan Bali hingga teknik repro karya-karya realis Vermier dan Rembrand-walau sedikit banyak berpengaruh- tetap tidak mengubah cara pandang Evi dalam berkarya.

“Lukisan Evi Muheriyawan sebenarnya lebih dekat pada gambaran corat-coret anak-anak.”, ujar Bambang A. Widjanarko, kurator pameran lukisan Evi. Bila dicermati, kelimapuluh lukisan yang dipamerkan di Hotel Nikko dan Grand Hyatt Jakarta ini menunjukkan proses metaformosis didalamnya. Mula-mula Evi menampakkan kenangan masa kecil yang kuat dalam coretan yang tidak proposional ala anak-anak di tahun 2005. Bahkan, lukisan Adam dan Hawa, diambil dari hasil coretan sketsa anak kandungnya sendiri, yang masih balita. Oleh sang kurator, gaya lukisan corat-coret anak ala Evi ini cenderung dikelompokkan kedalam aliran naïve. Naïve, dalam paradigma barat seringkali menganggap karakter anak yang spontan, lugu dan emotif sebagai image manusia yang sempurna, yang masih murni dari segi keindahan yang manipulatif dalam dunia dewasa. Gerakan aliran lukis surealisme juga dituding bertanggungjawab memicu aliran naive. Hasrat dan ego yang terpendam dalam diri seorang dewasa, yang kemudian muncul dalam mimpi dan fantasi, melatarbelakangi lukisan yang bergaya kekanak-kanakan.

Latar belakang budaya Sunda juga tampak dalam karya yang dipamerkan mulai dari tanggal 1 sampai 6 Agustus 2006 ini. Menyambut kelahiran sang anak, Evi yang berusia 33 tahun berekspresi dalam sosok gadis kecil dengan permainan sondah (permainan anak kecil di daerah Majalaya), lengkap dengan kehangatan masa kecil yang naïf. Kelahiran sang anak ini merupakan titik tolak bagi Evi, dimana kebebasan personal dari Bali dinyatakan. Pengaruh Sunda mulai mengambil alih dalam Adu Bagong, tahun 2005, dimana tradisi berburu dan mengadu babi hutan di daerah Majalaya dilukis ulang dengan ekspresif, dalam gaya paparan seorang anak.

Sebagai seorang seniman, Evi tidak henti untuk bereksplorasi dalam tema lainnya. Disamping pemaparan keadaan sehari-hari berbumbu memori masa kecil, pameran yang didukung Soka Gallery ini juga menampilkan lukisan bertema kritik sosial.

Kritik sosial muncul dalam sosok manusia dengan wajah yang terbelah dua dengan warna yang berbeda, walau tidak kontras. Disini diisyaratkan bahwa setiap manusia memiliki sisi baik dan buruk, dimana keduanya akan selalu menyatu dalam suatu pribadi. Bermain dengan sosok wajah manusia juga dilakukan menggunakan figur wajah bulat lebar, berhidung pesek namun berambut pirang. Mengisyaratkan sindiran halusnya kepada orang Indonesia yang cenderung kebarat-baratan.

Metaformosis dalam karya Evi terlihat pada akhir tahun 2005, dimana penertiban figur nampak, sebagai usaha memperbaiki komposisi agar enak dilihat. Penertiban ini terlihat dalam penggunaan outline yang lebih tipis, serta figur yang lebih proporsional. Meski demikian, kesan kekanak-kanakan yang naïf dan nakal masih nampak, disertai semakin banyaknya karya bertema kritik sosial.

Kritik sosial juga terungkap dalam Andai Aku Bisa Terbang atau That Crawl It All, menggambarkan ketidaksukaan Evi terhadap kota besar. Kota besar dipandang bersifat eksploitatif pada manusia, sehingga cenderung menghilangkan sisi humanisme. “Kota-kota besar membuat perbedaan strata sosial sangat terasa.Jika di Majalaya hanya terlihat violet dan ungu, maka di kota besar akan terlihat hitam dan putih.” tambah Evi mengungkap metaforanya.

Awal tahun 2006 Evi Muheriyawan memulai perubahan drastis, dengan mengubah gaya lukisannya lebih kearah realis Pengembangan kemampuannya dalam melukis realis saat merepro di Bali,mulai nampak. Permainan gradasi warna, cahaya dan volume yang sangat realis, bergabung dengan kritik ala Evi membuatnya berbeda namun tetap sama dengan karya sebelumnya.

Bambang A.Wijanarko menambahkan bahwa dalam karya-karya mutakhir Evi, cenderung tepat dan sempurna secara fisik dalam kacamata realis. Pengaruh maestro Velasques, Vermier dan Rembrand yang sering dipaparkan dalam kanvas berukuran besar juga nampak dalam karya Evi. Menarik untuk dilihat bagaimana seorang pelukis berlatar belakang Sunda namun mahir merepro lukisan Eropa,berpapar dalam suatu karya yang simbolis. Metafora ini nampak dalam fenomena kehidupan Sunda yang mulai terkoyak globalisasi pada Kesepian atau Masih Kesepian. Selain itu, hubungan harmonis-konflik seniman dengan pemilik modal juga ikut terungkap dalam Ketika yang Diutus Tiba atau Sedang Dipermainkan, dengan medium acrylic atau mix media.

Semua metafora yang diungkap dalam figur anak, sebenarnya merupakan refleksi dari perenungan seorang Evi Muheriyawan. Sebagai seorang seniman yang eksploratif, Evi akan terus bertutur dalam gaya yang konstan ber-evolusi. Budaya Sunda yang halus menyindir, digabung gaya klasik Eropa dalam metafora anak, adalah karakter tersendiri dari pelukis ini.


Kirim komentar anda
Jika anda anggota anda bisa kirim komentar. Bila anda ingin mendaftar, silahkan e-mail webmaster@stieken.ac.id
  Menu

Halaman Depan
Berita & Referensi
Kirim Berita
Artikel-Artikel
Forum
File Download
FAQ
Komposisi hari ini
Pesan Antar User
Documents
Artikel HTML
Daftar Link
Register
Account-Ku
Statistik
Hubungi kami


  Redaksi

Semua tulisan dan artikel yang dimuat di sini, sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Bila ingin memuatnya dalam media lain, mohon tuliskan URL kami di bawahnya.

Redaksi: redaksi@endonesa.net

RSS



  Cari & Komunitas

Diskusi via Email

Milis Page


  Organ Baru

  • Indie Comic
    Situs jaringan komik dan distro komik independen Indonesia
  • Jaring Endonesa
    Direktori komunitas dan perseorangan yang giat berkreasi dan berbagi
  • PJ-11
    Merupakan situs mini kru Endonesa.net dan penghuni markas Jl. Puncak Jaya
  • Art4daWorm
    eZine seni dan budaya dari Silluet Art Media
  • cinemaHolic
    website pengamat, penggemar, dan pengkarya sinema mandiri lokal yg gak alergi juga sama produk interlokal :)
  • Malang Studies
    Pustaka Budaya dan Sejarah Malang Raya,dapat juga diakses di www.malang.tk


  Komposisi hari ini



  Login

Login:

Password:

ingatlah aku

Register', Gratis!
Lupa password?

  Users Online

Pengunjung:
0 user yang terdaftar
dan 2 tamu online saat ini.

  Advertorial





  Prakarya

DVCdsign
Siar onLine
IndieTown

Referensi Studi tentang Malang Raya dan Sejarahnya, bisa juga diakses langsung di sini

  Page processed in 0.042 seconds

Endonesa interface v.03
Designed by DVCdsign, @ 2003