Dalam rapat yang berakhir sekitar pukul 2 malam itu, Donald segera
pulang menuju Hotel tempatnya menginap sebab hotel tempat rapat
letaknya cukup berjauhan. Permasalahan kemudian timbul dalam
perjalanan pulang, dengan alasan untuk razia narkoba 4 polisi tidak
memakai seragam menghentikan langkah Donald menuju hotelnya. Namun,
dalam pemeriksaan yang tidak begitu jelas tersebut Donald dan polisi
terlibat adu mulut yang mengakibatkan terjadinya perkelahian. Di awali
dengan pemukulan Donald pada salah seorang polisi.
Pertengkaran berakhir setelah polisi menunjuk identitasnya dan segera
membawa Donald menuju ke Kantor polisi. Dalam keadaan diborgol, di
kantor polisi inilah kejadian pemukulan secara membabi-buta terhadap
Donald dilakukan polisi. Menurut Tri Bekti, terjadinya pertengkaran
antara Donald dengan polisi disebabkan perkataan kasar polisi yang
menyudutkan Donald sebagai orang Indonesia. Sehingga, Donald merasa
terhina dan emosional karena sikap provokatif dari perkataan polisi.
Sentimen kebangsaan tersebut timbul, karena traumatiknya para polisi
malaysia dengan TKI yang banyak melanggar peraturan, tidak tertib,
bodoh, kurang terampil, dan pekerja kelas rendahan. Sehingga, mereka
mengambil kesimpulan semua orang Indonesia mempunyai tingkah laku yang
kurang lebih sama. Anggapan inilah yang kurang lebih menjadikan
Indonesia dipandang sebelah mata oleh malayasia. Panggilan "Indon"
bagi para TKI yang dirasakan sangat melecehkan harga diri dan martabat
bangsa merupakan akibat dari kualitas TKI kita yang dinilai sangat rendah.
Selain itu, alergi kebangsaan yang muncul karena perilaku menyimpang
para TKI. Permasalahan itulah yang sebenarnya akar masalah dari
puncak gunung es banyaknya perselisihan antara Indonesia dan Malaysia
akhir-akhir ini. Pandangan miring tentang TKI adalah sumber utama
lahirnya persepsi negara lain tentang bangsa kita.
Karena itu, menyikapi kita perlu hati-hati mengaitkannya dengan
nasionalisme bangsa. Jangan sampai nasionalisme dijunjung dengan
semangat perang saja. Jika dulu Sukarno berani meneriakkan ganyang
Malayasia, permasalahannya jelas. Malaysia dianggap bagian dari negara
boneka Inggris yang hendak djadikan alat oleh Inggris untuk menegakkan
neoimperialisme. Namun, pemukulan terhadap Donald jelas berbeda
konteks. Permasalahan Donald bermula dari asumsi negatif tentang
bangsa kita, selain itu konteks kasus Donald adalah dalam dunia
olahraga. Berbeda 180 derajat dengan kasus ganyang malaysia pada zaman
pemerintahan Sukarno.
Akan lebih tetap, jika kasus Donald diselesaikan didalam meja
pengadilan. Hal tersebut akan lebih baik dan berjiwa kstaria guna
mengungkap siapa yang sebenarnya salah dan memulai menyulut terjadinya
perkelahian. Jika memang Donald merasa dirinya benar, Donald wajib
melaporkannya para polisi yang menganiayanya bukan mengugata bangsa
Malaysia. Apalagi sampai harus menarik TKI, memutus hubungan
diplomatik, melakukan sweeping warga malaysia di Indonesia, memboikot
Siti Nurhaliza bukan merupakan langkah yang bijaksana.
Dari kasus ini, sebenarnya harus dijadikan refleksi kita bersama
tentang pandangan minor terhadap bangsa Indonesia kini. Tanpa
bermaksud untuk romantisme sejarah, saat zaman Presiden Sukarno
berkuasa sampai jatuhnya Suharto walaupun Indonesia disebut negara
berkembang, negara kita tidak pernah dipandang sebelah mata oleh
negara lain. Lahirnya Gerakan Non Blok (GNB), satu diantara keberanian
para pemimpin bangsa untuk bersikap dalam percaturan politik global.
Untuk itu, sebagai bahan refleksi kita bersama langkah yang perlu
ditempuh adalah segera melakukan evaluasi terhadap kualitas para TKI
yang kita kirim ke luar negeri. Peningkatan SDM para TKI sangat urgent
untuk membangun kembali persepsi masyarakat dunia tentang kualitas SDM
kita. Keberanian Sukarno mengatakan " Inggris saatnya kita linggis,
dan Amerika kita setrika" bukan sekedar keberanian tanpa disertai
kualitas SDM yang memadai.
Dunia internasional tidak hanya mengakui kualitas sosok Sukarno.
Hampir semua tokoh-tokoh awal perjuangan kemerdekaan dihargai karena
mempunyai kualitas pengetahuan dan wawasan yang tinggi. Peningkatan
kualitas SDM merupakan langkah paling strategis guna membenahi
pandangan terhadap negeri ini.
(dari posting ss_ahaan dalam Forum Penulis Kota Malang)