Seni fotografi, walaupun banyak dari tekniknya diterapkan dalam
fotografi komersial sebagai alat untuk menyenangkan direktur kreatif
dan para pelanggan , belum diterima dengan sungguh-sungguh sebagai
niatan sang fotografer untuk mengekspresikan dirinya dengan mencipta
kembali realitas. Adalah sebuah tantangan untuk menata ulang
fotografi di Indonesia dalam iklim yang lebih mendukung para
fotografer yang berupaya untuk lepas dari tekanan atas daya cipta
mereka, yang mendikte pada mereka apa yang baik dan apa yang tidak,
praktik ideologi arus utama yang intisarinya bermukim dalam
komersialisasi imaji dengan cara yang amat oportunis.
Dalam Kolase Imaji, 9 fotografer memamerkan karya terkini mereka,
yang memaparkan ekspresi mereka dalam fotografi. Masing-masing
memiliki gaya tersendiri dan pendekatan yang khas. Para fotografer
ini, sebagian masih muda: Davy Linggar, Paul, Keke. Perempuan: Keke
dan Maya. Beberapa lebih senior: John Suryaatmadja (Gochin), Oetomo
(U'ut), Pinky Mirror dan Jay Subhiyakto (tiga nama terakhir ini
dikenal sebagai fotografi "seleb") dan Nico Dharmajungen, yang secara
konsisten selama puluhan tahun berusaha mengekspresikan dirinya
melalui kerja-kerja fotografi.
Nama-nama di atas mewakili kisaran luas berbagai pendekatan dalam
fotografi, bersifat personal dan artistik, bisa modernis, formalis
atau posmodernis – yang satu sebagai negasi dari yang pendahulunya.
Perbagai representasi fotografi dalam seni fotografi, yang
sesungguhnya berada jauh di luar kenyataan dunia umum fotografi di
Indonesia, namun ada dan diterapkan oleh beberapa seniman. Akan
sangat membantu kita untuk memahami ini bila kita dapat
menghubungkan karya mereka dengan keberadaan mereka sebagai satu
sosok pribadi, mengenali secara singkat tentang karya yang
dipamerkan dan menghubungkannya dengan latar sosial mereka. Saya
percaya bahwa seni (fotografi) adalah salah satu bentuk komunikasi
antar manusia, sebagai wacana yang tertambat pada hubungan sosial
yang nyata, dan bukan suatu wilayah yang khayali, samar-samar ia
bukan suatu wilayah yang murni didasari ungkapan rasa dan pengalaman
tanpa sejarah . Bukanlah berarti bahwa kita mengacuhkan aspek-aspek
kreatif, afektif dan ekspresif dalam kegiatan budaya, tapi agar
faham bagaimana seni (fotografi) dapat memunculkan serta
menggambarkan struktur (sosial) yang represif dengan menawarkan
transendensi yang sepenuhnya berdasarkan imajinasi, suatu keselarasan
yang khayal, kepada pemirsa yang pasif dan terasing. Karenanya seni,
tanpa mengabaikan tampilan estetiknya, haruslah selalu bisa dibaca,
dipecahkan sandi-sandinya dan dipahami dalam konteks sosialnya.
Berikut ini adalah perkenalan karya-karya mereka:
Mungkin bagi sebagian dari kita melihat karya foto Davy Linggar
sebagai pendekatan baru pada fotografi. Secara teknis ia mencampur
media dengan menambahkan sentuhan fisik (melalui pinsil) dan kemudian
mengkomputerisasi imaji dalam karyanya. Oleh pembelajaran seni rupa
dan fotografi secara akademis, perhatiannya terhadap teknik dalam
estetika tergambar jelas dalam karya Davy, terlebih pengalamannya
membuat karya foto salon (lihat CV) di mana teknik (estetika) berdiri
di atas segalanya.
Walaupun demikian, dengan teknik rumit itupun, pada akhirnya estetika
Davy merupakan imaji personal (bukan estetis semata). Warna-warna
pucat, tubuh perempuan (kemungkinan seseorang yang dekat dengan Davy)
yang terserak, semua ditampilkan dengan amat tersamar. Semua fotonya
memandu kita mengenali pengalaman estetisnya. Sentuhan pinsil dan
tinta seperti mengingatkan kita bahwa foto-foto ini berkait secara
pribadi dengannya (miliknya). Ia seolah sedang berbagi pengalaman
romantis dengan kita, dengan catatan penggunaan pendekatan tehnik
yang rumit. Satu hal yang sangat umum secara emosional bagi generasi
MTV, yang tumbuh bersama dalam paduan romantisme dan tehnologi.
Sementara Paul Kadarisman, dikenal oleh pendekatannya terhadap
masalah-masalah sosial (dalam foto-foto awalnya tentang lingkungan)
bisa diletakkan dalam genre yang sama. Ciri has dari karya karyanya
adalah imaji-imaji yang disederhanakan dan terlihat naif dibandingkan
dengan kerumitan seni (fotografi) dan tema-tema yang diangkat.
Foto seri berjudul Anak Techno (di sini kita bisa mempertanyakan niat
Paul memilih anak sebagai subjek – apakah sebagai isyarat filosofis
bagi kepolosan yang pelan-pelan berkembang merumit atau sebagai
kritik atas perkembangan anak masa kini), dibuat dengan teknik yang
elementer, dengan cara "sandwich" dari seorang anak berdiri dengan
foto kabel-kabel telepon, ditampilkan dalam ukuran besar dengan
keempat ujung yang membulat, menimbulkan tampilan yang mengganggu
dibanding sudut-sudut lancip dan teknik tinggi dan canggih dalam
konsepsi dan nilai-nilai modernis. Tampilan yang sederhana
menciptakan sebuah estetika yang sangat anti formalis. Kali ini Paul
mengeritik estetika formalis yang menekankan pentingnya detil: grain,
warna, komposisi dan bahkan elemen pendukung yang lain seperti
kegenitan tanda tangan, bingkai dan elemen-elemen sekunder lain
menjauh dari niatan si fotografer dan foto itu sendiri. Karyanya
mengingatkan kita akan karya-karya "setelah Stieglitz", ideologi yang
menolak pendekatan modernis . Paul memperkenalkan kita kepada
apreasiasi lain terhadap fotografi, yang di mata para formalis akan
melahirkan pertanyaan; apakah karya ini sebuah instalasi visual
atau karya fotografi. Sebuah pertanyaan yang mungkin oleh Paul
sendiri tak akan diambil pusing.
Keke mewakili pendekatan dari generasi yang sama dengan Paul. Tapi
karyanya memmiliki daya tarik yang beda. Ia memberi tekanan pada
warna dan gradasi. Keempat fotonya bisa dibagi dalam dua bagian atau
tema, yang pertama bernuansa ocher (kuning kecoklatan) dan lainnya,
yang tampak agak relijius, keduanya menciptakan suasana imaji
intrinsik yang kental. Kedua tema utama juga ditandai dengan
pendekatan warna solid yang sama. Ketika berkarya ia berniat
merangsang emosi orang, menciptakan empati, yang dalam pameran ini
mudah kita rasakan. Tiga toples dalam warna kuning kecoklatan,
bercerita tentang pengalamaan pribadinya tentang seekor ikan yang
tak sempat menikmati rumah barunya (toples-toples ini). Lalu sebuah
foto yang provokatif: bayang-bayang salib, dengan sebagian kaki
patung Isa. Dan kemudian Isa yang dilihat dari sudut pandang atas.
Yang (secara teoritis) hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang lebih
berkuasa (di sini manusia-fotografer sebagai tuan atas kepercayaannya
sendirikah?). Imaji-imaji Keke seolah tanpa kesengajaan namun
kritis, mengajak kita mengarungi pengalaman estetik serta pesan
pesan penting dari pengalaman hidup Keke sendiri. Suatu pengalaman
yang penuh rasa, tapi sekaligus nikmat.
Bunga-bunga Maya mengingatkan kita akan karya-karya Mapplethrope, di
mana keindahan ditampilkan secara ambigu. Foto hitam putih meniadakah
keindahan yang dipancarkan warna warni, menciptakan atmosfir dramatik
diantara cercah kebahagiaan. Dua gambar karangan bunga dipotret
sebagai imaji sentral yang agak konvensional, tapi tetap menciptakan
emosi kesendirian. Bidikan jarak menengah-dekat yang terfragmentasi
diletakkan di sisi rendah menuju cahaya terang, mengingatkan kita
pada harapan. Fragmen bagian-bagian tubuh sebuah patung dari seorang
anak yang berlari membelakang menuntun kita pada alam pikiran Maya;
mengapa si anak melarikan diri? Meskipun ia berada di taman yang
penuh bunga?
Gaya hidup urban yang konsisten tapi kadang mengangankan masa lalu
terlihat jelas pada karya Gochin dalam pameran ini. Imaji-imaji yang
bergerak mewakili kehidupan subkulturnya (kota)ditampilkan dengan
sudut dan cara pandang yang tidak konvensional ketika ia mengambil
gambar orang-orang bergerak dalam suatu jalan di Tokyo, begitu juga
imaji-imaji kabur dari minuman yang disajikan seorang pelayan
(pahlawan proletarian di bar dan diskotik). Di sisi lain imajinya
tentang anak Bali ditampilkan secara halus dan kesan gambar yang
sangat "human interest", dan karenanya kesatuan penyajian karya
karyanya menggambarkan situasi kehidupan kota yang serba sibuk
dengan kerinduan akan ketenangan masa lalu. Sehingga bila merangkai
keempat karya, fotonya yang disebut belakangan adalah "Hopes" malah
membawa kita pada satu harapan yang menjauh dari kenyataan. Kejujuran
tulus seorang seniman dan tantangan identitas yang khas dalam
masyarakat masa kini yang terus berubah.
Oetomo, sebagai salah satu fotografer "people" yang kondang saat ini,
alih-alih menggambarkan manusia, ia memilih karya foto benda diam.
Karyanya sepintas terlihat seperti gambaran pendekatan formal atas
komposisi dan keindahan yang seimbang. Gambar bagian-bagian pohon
(yang ditanam dan dirawatnya sendiri) ditampilkan begitu rapi dan
simetris. Segalanya kelihatan baik-baik saja sampai akhirnya kita
sadar bahwa salah satu foto sengaja ditampilkan terbalik. dan tetap
terlihat sempurna. Sepertinya Oetomo mencoba menyatakan bahwa
keseimbangan yang paling sempurna adalah keseimbangan yang dibuat tak
sempurna.
Pinky Mirror dan Jay Subhiyakto, keduanya dikenal karena gambar
gambar indahnya. Tapi berbeda dengan fotografer keindahan yang lain,
pendekatan mereka lebih kaya dan kompleks dari pendekatan teoritis.
Karya-karya Pinky Mirror, meski sekilas kelihatan seperti bidikan
komersial yang sempurna, mewakili ideologi modernitas. Garis-
garisnya, kesederhanaan dan ketajaman akan menyadarkan kita bahwa
kita hidup di era yang berbeda, jauh dari keindahan romantis yang
utopis. Keindahan saat ini diciptakan melalui usaha keras dan
tantangan yang tak kenal lelah untuk selalu jadi lebih baik dari
hari kemarin dan bagaimana menjadi muda (dan cantik) selamanya.
Di sisi lain Jay Subhiyakto memiliki pendekatan yang berlawanan.
Meskipun hidup (dan bekerja) dalam lingkungan teknologi tinggi (lihat
CV), Jay menegaskan karyanya dengan cara yang sangat mistis.
Sepertinya ia berdiri di ambang tradisi, kejayaan budaya masa lalu
dan persimpangannya dengan modernitas kini. Jay sangat dikenal dalam
menggambarkan wajah-wajah ayu (dari para model yang muda dan tanpa
dosa) menempatkan mereka di tempat-tempat suci yang monumental,
realitas kecantikan belia (mewakili era baru) berhadap-hadap dengan
pemandangan sejarah yang kuno, menimbulkan aura janggal tetapi khas
dan unik dalam karya-karyanya. Karyanya tidak dimaksud untuk
menantang, tapi mengundang kita untuk masuk lebih jauh ke dalam
realitas (ciptaan)nya yang bagi sebagian orang bisa dirasakan
sebagai perjalanan yang penuh misteri.
Terakhir, Nico Dharmajungen. Kurator (Oktagon) sangat kesulitan untuk
bersikap objektif terhadap karya-karyanya. Kekaguman mewarnai
pandangan atas Nico, satu-satunya fotografer profesional dalam
pameran ini yang sudah bekerja sebagai jurufoto selama lebih dari 20
tahun dan tak pernah membiarkan dirinya dicemari dan dikucilkan oleh
serangan estetika komersial yang bertubi-tubi. Nico secara konsisten
memamerkan karyanya. Dalam Kolase Imaji ia menampilkan karya-karya
terdahulunya dan menambahkan satu foto. Fragmen tubuh keindahan
(perempuan), mengingatkan kita akan dunia komersil yang
menghidupinya, yang dengan sengaja dipiuh dengan sentuhan
ketidakpastian. Atmosifir lembut sosok tubuh yang indah dikejutkan
oleh kehadiran baja atau gurita (!). Sepertinya ada kesakitan,
keganjilan dalam keindahan itu sendiri, suatu imaji psikologis yang
sangat kuat. Mengenal Nico secara personal (sekali lagi lihat CV)
membantu seseorang menyelam ke dalam imaji-imajinya, keindahan,
kesakitan dan kesedihan, dan diatas semua kehendaknya untuk maju
menantang dan menghadapi realitas.
Walaupun kesembilan fotografer datang dari era ekspresi yang berbeda,
mereka mewakili satu niat: mengekspresikan diri mereka, pembebasan
(melalui imaji) dari apa yang mereka anggap menekan ekspresi estetik
dan ideologi mereka, tabu pendekatan konvensional dari formalisme dan
dunia komersial dalam dunia fotografi Indonesia.
Saya menyadari ada banyak fotografer dengan ketekunan yang sama tapi
belum mendapatkan kesempatan berpameran. Tapi kesembilan fotografer
ini bisa dilihat sebagai mosaik dan kolase imaji mewakili gelombang
(seni) fotografi kontemporer Indonesia saat ini. Sebuah Kolase yang
mengembangkan apresiasi baru terhadap fotografi, estetika dan
konseptual, sebuah ideologi baru. Di mana presentasi pernyataan
individual berdiri sama sejajar dengan rekaman realita (tentang
keindahan ataupun peristiwa). Pencerminan ekspresi estetika-kultural
dari hubungan sosial di masyarakat kita saat ini.
M. Firman Ichsan
Kurator
(terjemahaan bebas; Lisa Zr)
Galeri Oktagon
Jl.Gunung Sahari 50A
Jakarta Pusat 10610
phone : 4204545
fax : 4202900
Senin - Jumat pukul 10.30 - 20.30
Sabtu - Minggu pukul 10.30 - 17.30
untuk keterangan lebih lanjut harap menghubungi sdri. Melva di
4204545. Sekilas adalah tulisan dari kurator Galeri Oktagon.