:: Halaman Depan  :: Berita & Referensi  :: Kirim Berita  :: Artikel-Artikel  :: Forum  :: File Download  :: FAQ  :: Komposisi hari ini 
 
25/09/2002 00:00 - Kolase Imaji, sebuah pameran fotografi
Dikirim oleh admintulisan lain soal
Seni dan DesainWalaupun sudah berjalan selama lebih dari seratus tahun sejak masa kolonial , fotografi di Indonesia lebih sering dianggap sebagai seni yang menghadirkan realitas, dan bukan sebagai seni yang mewakili ekspresi seseorang. Media cetak maupun beberapa galeri "seni" cenderung memamerkan foto-foto yang menghadirkan "realitas" keindahan (dalam pendekatan fotografi salon) selain menghadirkan nya sebagai wakil dari momentum "kebenaran" sebagai dalam fotografi jurnalistik.
 

Seni fotografi, walaupun banyak dari tekniknya diterapkan dalam fotografi komersial sebagai alat untuk menyenangkan direktur kreatif dan para pelanggan , belum diterima dengan sungguh-sungguh sebagai niatan sang fotografer untuk mengekspresikan dirinya dengan mencipta kembali realitas. Adalah sebuah tantangan untuk menata ulang fotografi di Indonesia dalam iklim yang lebih mendukung para fotografer yang berupaya untuk lepas dari tekanan atas daya cipta mereka, yang mendikte pada mereka apa yang baik dan apa yang tidak, praktik ideologi arus utama yang intisarinya bermukim dalam komersialisasi imaji dengan cara yang amat oportunis.

Dalam Kolase Imaji, 9 fotografer memamerkan karya terkini mereka, yang memaparkan ekspresi mereka dalam fotografi. Masing-masing memiliki gaya tersendiri dan pendekatan yang khas. Para fotografer ini, sebagian masih muda: Davy Linggar, Paul, Keke. Perempuan: Keke dan Maya. Beberapa lebih senior: John Suryaatmadja (Gochin), Oetomo (U'ut), Pinky Mirror dan Jay Subhiyakto (tiga nama terakhir ini dikenal sebagai fotografi "seleb") dan Nico Dharmajungen, yang secara konsisten selama puluhan tahun berusaha mengekspresikan dirinya melalui kerja-kerja fotografi.

Nama-nama di atas mewakili kisaran luas berbagai pendekatan dalam fotografi, bersifat personal dan artistik, bisa modernis, formalis atau posmodernis – yang satu sebagai negasi dari yang pendahulunya. Perbagai representasi fotografi dalam seni fotografi, yang sesungguhnya berada jauh di luar kenyataan dunia umum fotografi di Indonesia, namun ada dan diterapkan oleh beberapa seniman. Akan sangat membantu kita untuk memahami ini bila kita dapat menghubungkan karya mereka dengan keberadaan mereka sebagai satu sosok pribadi, mengenali secara singkat tentang karya yang dipamerkan dan menghubungkannya dengan latar sosial mereka. Saya percaya bahwa seni (fotografi) adalah salah satu bentuk komunikasi antar manusia, sebagai wacana yang tertambat pada hubungan sosial yang nyata, dan bukan suatu wilayah yang khayali, samar-samar ia bukan suatu wilayah yang murni didasari ungkapan rasa dan pengalaman tanpa sejarah . Bukanlah berarti bahwa kita mengacuhkan aspek-aspek kreatif, afektif dan ekspresif dalam kegiatan budaya, tapi agar faham bagaimana seni (fotografi) dapat memunculkan serta menggambarkan struktur (sosial) yang represif dengan menawarkan transendensi yang sepenuhnya berdasarkan imajinasi, suatu keselarasan yang khayal, kepada pemirsa yang pasif dan terasing. Karenanya seni, tanpa mengabaikan tampilan estetiknya, haruslah selalu bisa dibaca, dipecahkan sandi-sandinya dan dipahami dalam konteks sosialnya.

Berikut ini adalah perkenalan karya-karya mereka:
Mungkin bagi sebagian dari kita melihat karya foto Davy Linggar sebagai pendekatan baru pada fotografi. Secara teknis ia mencampur media dengan menambahkan sentuhan fisik (melalui pinsil) dan kemudian mengkomputerisasi imaji dalam karyanya. Oleh pembelajaran seni rupa dan fotografi secara akademis, perhatiannya terhadap teknik dalam estetika tergambar jelas dalam karya Davy, terlebih pengalamannya membuat karya foto salon (lihat CV) di mana teknik (estetika) berdiri di atas segalanya.

Walaupun demikian, dengan teknik rumit itupun, pada akhirnya estetika Davy merupakan imaji personal (bukan estetis semata). Warna-warna pucat, tubuh perempuan (kemungkinan seseorang yang dekat dengan Davy) yang terserak, semua ditampilkan dengan amat tersamar. Semua fotonya memandu kita mengenali pengalaman estetisnya. Sentuhan pinsil dan tinta seperti mengingatkan kita bahwa foto-foto ini berkait secara pribadi dengannya (miliknya). Ia seolah sedang berbagi pengalaman romantis dengan kita, dengan catatan penggunaan pendekatan tehnik yang rumit. Satu hal yang sangat umum secara emosional bagi generasi MTV, yang tumbuh bersama dalam paduan romantisme dan tehnologi.

Sementara Paul Kadarisman, dikenal oleh pendekatannya terhadap masalah-masalah sosial (dalam foto-foto awalnya tentang lingkungan) bisa diletakkan dalam genre yang sama. Ciri has dari karya karyanya adalah imaji-imaji yang disederhanakan dan terlihat naif dibandingkan dengan kerumitan seni (fotografi) dan tema-tema yang diangkat.

Foto seri berjudul Anak Techno (di sini kita bisa mempertanyakan niat Paul memilih anak sebagai subjek – apakah sebagai isyarat filosofis bagi kepolosan yang pelan-pelan berkembang merumit atau sebagai kritik atas perkembangan anak masa kini), dibuat dengan teknik yang elementer, dengan cara "sandwich" dari seorang anak berdiri dengan foto kabel-kabel telepon, ditampilkan dalam ukuran besar dengan keempat ujung yang membulat, menimbulkan tampilan yang mengganggu dibanding sudut-sudut lancip dan teknik tinggi dan canggih dalam konsepsi dan nilai-nilai modernis. Tampilan yang sederhana menciptakan sebuah estetika yang sangat anti formalis. Kali ini Paul mengeritik estetika formalis yang menekankan pentingnya detil: grain, warna, komposisi dan bahkan elemen pendukung yang lain seperti kegenitan tanda tangan, bingkai dan elemen-elemen sekunder lain menjauh dari niatan si fotografer dan foto itu sendiri. Karyanya mengingatkan kita akan karya-karya "setelah Stieglitz", ideologi yang menolak pendekatan modernis . Paul memperkenalkan kita kepada apreasiasi lain terhadap fotografi, yang di mata para formalis akan melahirkan pertanyaan; apakah karya ini sebuah instalasi visual atau karya fotografi. Sebuah pertanyaan yang mungkin oleh Paul sendiri tak akan diambil pusing.

Keke mewakili pendekatan dari generasi yang sama dengan Paul. Tapi karyanya memmiliki daya tarik yang beda. Ia memberi tekanan pada warna dan gradasi. Keempat fotonya bisa dibagi dalam dua bagian atau tema, yang pertama bernuansa ocher (kuning kecoklatan) dan lainnya, yang tampak agak relijius, keduanya menciptakan suasana imaji intrinsik yang kental. Kedua tema utama juga ditandai dengan pendekatan warna solid yang sama. Ketika berkarya ia berniat merangsang emosi orang, menciptakan empati, yang dalam pameran ini mudah kita rasakan. Tiga toples dalam warna kuning kecoklatan, bercerita tentang pengalamaan pribadinya tentang seekor ikan yang tak sempat menikmati rumah barunya (toples-toples ini). Lalu sebuah foto yang provokatif: bayang-bayang salib, dengan sebagian kaki patung Isa. Dan kemudian Isa yang dilihat dari sudut pandang atas. Yang (secara teoritis) hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang lebih berkuasa (di sini manusia-fotografer sebagai tuan atas kepercayaannya sendirikah?). Imaji-imaji Keke seolah tanpa kesengajaan namun kritis, mengajak kita mengarungi pengalaman estetik serta pesan pesan penting dari pengalaman hidup Keke sendiri. Suatu pengalaman yang penuh rasa, tapi sekaligus nikmat.

Bunga-bunga Maya mengingatkan kita akan karya-karya Mapplethrope, di mana keindahan ditampilkan secara ambigu. Foto hitam putih meniadakah keindahan yang dipancarkan warna warni, menciptakan atmosfir dramatik diantara cercah kebahagiaan. Dua gambar karangan bunga dipotret sebagai imaji sentral yang agak konvensional, tapi tetap menciptakan emosi kesendirian. Bidikan jarak menengah-dekat yang terfragmentasi diletakkan di sisi rendah menuju cahaya terang, mengingatkan kita pada harapan. Fragmen bagian-bagian tubuh sebuah patung dari seorang anak yang berlari membelakang menuntun kita pada alam pikiran Maya; mengapa si anak melarikan diri? Meskipun ia berada di taman yang penuh bunga?

Gaya hidup urban yang konsisten tapi kadang mengangankan masa lalu terlihat jelas pada karya Gochin dalam pameran ini. Imaji-imaji yang bergerak mewakili kehidupan subkulturnya (kota)ditampilkan dengan sudut dan cara pandang yang tidak konvensional ketika ia mengambil gambar orang-orang bergerak dalam suatu jalan di Tokyo, begitu juga imaji-imaji kabur dari minuman yang disajikan seorang pelayan (pahlawan proletarian di bar dan diskotik). Di sisi lain imajinya tentang anak Bali ditampilkan secara halus dan kesan gambar yang sangat "human interest", dan karenanya kesatuan penyajian karya karyanya menggambarkan situasi kehidupan kota yang serba sibuk dengan kerinduan akan ketenangan masa lalu. Sehingga bila merangkai keempat karya, fotonya yang disebut belakangan adalah "Hopes" malah membawa kita pada satu harapan yang menjauh dari kenyataan. Kejujuran tulus seorang seniman dan tantangan identitas yang khas dalam masyarakat masa kini yang terus berubah.

Oetomo, sebagai salah satu fotografer "people" yang kondang saat ini, alih-alih menggambarkan manusia, ia memilih karya foto benda diam. Karyanya sepintas terlihat seperti gambaran pendekatan formal atas komposisi dan keindahan yang seimbang. Gambar bagian-bagian pohon (yang ditanam dan dirawatnya sendiri) ditampilkan begitu rapi dan simetris. Segalanya kelihatan baik-baik saja sampai akhirnya kita sadar bahwa salah satu foto sengaja ditampilkan terbalik. dan tetap terlihat sempurna. Sepertinya Oetomo mencoba menyatakan bahwa keseimbangan yang paling sempurna adalah keseimbangan yang dibuat tak sempurna.

Pinky Mirror dan Jay Subhiyakto, keduanya dikenal karena gambar gambar indahnya. Tapi berbeda dengan fotografer keindahan yang lain, pendekatan mereka lebih kaya dan kompleks dari pendekatan teoritis. Karya-karya Pinky Mirror, meski sekilas kelihatan seperti bidikan komersial yang sempurna, mewakili ideologi modernitas. Garis- garisnya, kesederhanaan dan ketajaman akan menyadarkan kita bahwa kita hidup di era yang berbeda, jauh dari keindahan romantis yang utopis. Keindahan saat ini diciptakan melalui usaha keras dan tantangan yang tak kenal lelah untuk selalu jadi lebih baik dari hari kemarin dan bagaimana menjadi muda (dan cantik) selamanya.

Di sisi lain Jay Subhiyakto memiliki pendekatan yang berlawanan. Meskipun hidup (dan bekerja) dalam lingkungan teknologi tinggi (lihat CV), Jay menegaskan karyanya dengan cara yang sangat mistis. Sepertinya ia berdiri di ambang tradisi, kejayaan budaya masa lalu dan persimpangannya dengan modernitas kini. Jay sangat dikenal dalam menggambarkan wajah-wajah ayu (dari para model yang muda dan tanpa dosa) menempatkan mereka di tempat-tempat suci yang monumental, realitas kecantikan belia (mewakili era baru) berhadap-hadap dengan pemandangan sejarah yang kuno, menimbulkan aura janggal tetapi khas dan unik dalam karya-karyanya. Karyanya tidak dimaksud untuk menantang, tapi mengundang kita untuk masuk lebih jauh ke dalam realitas (ciptaan)nya yang bagi sebagian orang bisa dirasakan sebagai perjalanan yang penuh misteri.

Terakhir, Nico Dharmajungen. Kurator (Oktagon) sangat kesulitan untuk bersikap objektif terhadap karya-karyanya. Kekaguman mewarnai pandangan atas Nico, satu-satunya fotografer profesional dalam pameran ini yang sudah bekerja sebagai jurufoto selama lebih dari 20 tahun dan tak pernah membiarkan dirinya dicemari dan dikucilkan oleh serangan estetika komersial yang bertubi-tubi. Nico secara konsisten memamerkan karyanya. Dalam Kolase Imaji ia menampilkan karya-karya terdahulunya dan menambahkan satu foto. Fragmen tubuh keindahan (perempuan), mengingatkan kita akan dunia komersil yang menghidupinya, yang dengan sengaja dipiuh dengan sentuhan ketidakpastian. Atmosifir lembut sosok tubuh yang indah dikejutkan oleh kehadiran baja atau gurita (!). Sepertinya ada kesakitan, keganjilan dalam keindahan itu sendiri, suatu imaji psikologis yang sangat kuat. Mengenal Nico secara personal (sekali lagi lihat CV) membantu seseorang menyelam ke dalam imaji-imajinya, keindahan, kesakitan dan kesedihan, dan diatas semua kehendaknya untuk maju menantang dan menghadapi realitas.

Walaupun kesembilan fotografer datang dari era ekspresi yang berbeda, mereka mewakili satu niat: mengekspresikan diri mereka, pembebasan (melalui imaji) dari apa yang mereka anggap menekan ekspresi estetik dan ideologi mereka, tabu pendekatan konvensional dari formalisme dan dunia komersial dalam dunia fotografi Indonesia.

Saya menyadari ada banyak fotografer dengan ketekunan yang sama tapi belum mendapatkan kesempatan berpameran. Tapi kesembilan fotografer ini bisa dilihat sebagai mosaik dan kolase imaji mewakili gelombang (seni) fotografi kontemporer Indonesia saat ini. Sebuah Kolase yang mengembangkan apresiasi baru terhadap fotografi, estetika dan konseptual, sebuah ideologi baru. Di mana presentasi pernyataan individual berdiri sama sejajar dengan rekaman realita (tentang keindahan ataupun peristiwa). Pencerminan ekspresi estetika-kultural dari hubungan sosial di masyarakat kita saat ini.

M. Firman Ichsan
Kurator
(terjemahaan bebas; Lisa Zr)

Galeri Oktagon
Jl.Gunung Sahari 50A
Jakarta Pusat 10610
phone : 4204545
fax : 4202900

Senin - Jumat pukul 10.30 - 20.30
Sabtu - Minggu pukul 10.30 - 17.30


untuk keterangan lebih lanjut harap menghubungi sdri. Melva di 4204545. Sekilas adalah tulisan dari kurator Galeri Oktagon.


Kirim komentar anda
Jika anda anggota anda bisa kirim komentar. Bila anda ingin mendaftar, silahkan e-mail webmaster@stieken.ac.id
  Menu

Halaman Depan
Berita & Referensi
Kirim Berita
Artikel-Artikel
Forum
File Download
FAQ
Komposisi hari ini
Pesan Antar User
Documents
Artikel HTML
Daftar Link
Register
Account-Ku
Statistik
Hubungi kami


  Redaksi

Semua tulisan dan artikel yang dimuat di sini, sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Bila ingin memuatnya dalam media lain, mohon tuliskan URL kami di bawahnya.

Redaksi: redaksi@endonesa.net

RSS



  Cari & Komunitas

Diskusi via Email

Milis Page


  Organ Baru

  • Indie Comic
    Situs jaringan komik dan distro komik independen Indonesia
  • Jaring Endonesa
    Direktori komunitas dan perseorangan yang giat berkreasi dan berbagi
  • PJ-11
    Merupakan situs mini kru Endonesa.net dan penghuni markas Jl. Puncak Jaya
  • Art4daWorm
    eZine seni dan budaya dari Silluet Art Media
  • cinemaHolic
    website pengamat, penggemar, dan pengkarya sinema mandiri lokal yg gak alergi juga sama produk interlokal :)
  • Malang Studies
    Pustaka Budaya dan Sejarah Malang Raya,dapat juga diakses di www.malang.tk


  Komposisi hari ini



  Login

Login:

Password:

ingatlah aku

Register', Gratis!
Lupa password?

  Users Online

Pengunjung:
0 user yang terdaftar
dan 2 tamu online saat ini.

  Advertorial





  Prakarya

DVCdsign
Siar onLine
IndieTown

Referensi Studi tentang Malang Raya dan Sejarahnya, bisa juga diakses langsung di sini

  Page processed in 0.013 seconds

Endonesa interface v.03
Designed by DVCdsign, @ 2003