Menurut saya, karya tujuh orang ini: A’ang, Andreas Eko Sardjono, Ardi Yunanto, Dwi Parsetyo, Fredy Destyawan, Hendra Yudiyanto dan HSG, cukup beragam, dengan tentunya karakter yang lumayan terbentuk dalam menjembatani apa yang selalu dikatakan sebagai benang merah sebuah kelompok. A’ang dengan fenomena kartun imajinasikalnya, Dwi yang terasa lebih jujur dengan pengungkapan detail mix medianya yang sangat personal, HSG yang kuat dengan ekspresinya pada obyek-obyek grafis sederhana, ungkapan ilusi Hendra Yudiyanto pada media computer imagingnya, seksualitas berbau magazine design-nya Ardi Yunanto, ataupun pengungkapan gaya yang berbeda sesuai kebutuhan tematis yang ditawarkan Andreas Eko Sardjono.
Namun dari semua itu, secara jujur, tampak karya Fredy Destyawan masih sangat berbeda secara level jika dibandingkan sebagai wacana kelompok. Simbolisasinya tampak sangat stereotipikal dengan minimalisasi pengusaan teknis, sebuah usaha yang gagap dalam mengolah tema secara personal dengan jujur. Karena terus terang, karya inilah yang sama sekali tidak memiliki benang merah dalam deretan display yang disusun perorang – demi menunjukkan perbedaan karakter – dalam pameran ini.
Kenyataan ini tentulah juga bukan pernyataan subyektif, karena hal tersebut juga kemudian dibahas dalam diskusi, yang sayangnya hanya dihadiri oleh kalangan sendiri, sebah reuni kecil. Namun lepas dari segala kelemahan seorang Fredy. Ada yang lebih menarik dalam diskusi kecil tersebut, yaitu adanya presentasi karya, dan pengulasan karya yang (lumayan) mendalam. Satu hal yang menurut saya jarang sekali terbit di kota Malang ini, ketika diskusi terus dibudayakan bersama pembicara tanpa independensi pengelolanya sendiri, yang kemudian melantur ke mana-mana, lepas dari konteks kekaryaan yang ada dalam pameran.
Sebuah referensi, ataupun sebuah masukan, yang terasa masih malu-malu pada beberapa pihak, saya sendiri memang tidak jelas mengetahui sampai sebatas apa level kejujuran diungkapkan dalam diskusi tersebut, karena menurut saya, kejujuranlah yang akan membangun menara proses kreatif. Mengingat kebudayaan kota ini yang sangat tertutup dalam memuji, ataupun memaki, yang sama sekali tidak membangun apa-apa untuk kelanjutan sebuah apa pun yang menjadi karya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian utama dalam pameran ini adalah pertanyaan tentang bubarnya Kedai Rupa ini. Yang seperti dikatakan oleh Ardi Yunanto pada pembukaan diskusi, adalah usaha penghapusan nama, usaha independensi tanpa harus terikat oleh bendera tertentu, mengingat banyaknya bendera di kota ini yang sama sekali tak menghasilkan apa-apa. Pertanyaan memang bergulir pada kecurigaan keputusasaan, atau penyayangan tidak adanya gerak estafet yang nyata dikemudian hari, suatu hal yang ditolak tegas oleh Kedai Rupa sendiri, karena mereka telah memiliki rencana-rencana personal yang akan dibantu oleh orang-orang yang sama. Satu-satunya pembedaan adalah gerakan itu akan lebih independesi, tanpa berlindung dibalik nama apapun.
Namun sedikitnya, menurut saya, satu hal yang ternyata diungkapkan jujur juga pada diskusi tersebut, adalah: ini sedikitnya mengungkapkan ketidak utuhan kelompok itu sendiri. Yang menurut saya lebih pada tataran teknis dan ketidaksamaan visi. Hal yang terlihat jelas dari begitu berbedanya seorang Fredy diantara rekan-rekan lain, atau tidak adanya kurasi pada pameran ini sebagaimana rencana sebelumnya, juga kontrol-kontrol kekaryaan yang seharusnya tentunya didiskusikan terlebih dahulu. Ini lebih menjadi seperti sebuah agenda yang harus dituntaskan. Mengingat ternyata ada beberapa karya yang baru dilihat pada saat display oleh sesama Kedai Rupa sendiri. Sebuah kekurangan diskusi yang mendalam untuk menjadikan suatu pemahaman yang setingkat dalam sebuah kelompok, yang untungnya disadari sendiri dan diputuskan mengenai kebubarannya secara dewasa. Sebuah pengakuan atas ketidak-mampuan diri mengemban nama kelompok yang menurut saya sangat bijaksana, karena kesadaran mundur tentunya sedikit sekali ada di negara kita tercinta ini, terlebih lagi di Kota Malang yang sangat terkenal dengan sosialis-apologisnya sebuah seni rupa.
* * *
Hal lainnya sendiri adalah keberanian Kedai Rupa menyodorkan alternatif media baru oleh beberapa anggotanya. Sesungguhnya memang bukan media baru, mungkin lebih tepat jika dikatakan minoritas secara lokalis, karena seperti media seperti ini memang sudah sangat purba di kota-kota lain, terlebih di negara lain. Pemakaian media kertas memang mendominasi, dengan cat poster, cat air, mix media sederhana, spidol, pensil warna, ataupun penggunaan computer secara utuh sebagai medium.
Sebenarnya saya tidak ingin berbicara secara narsis terharap komputer ini, karena menurut saya, bahkan penggunaan media kertas dengan pensil warna ataupun cat poster dapat dibilang hanya menjadi hal yang biasa dan tidak berkelas di Kota yang menjunjung kedigdayaan cat minyak dan kanvas ini. Namun computer sebagai media, walaupun saya sempat tertawa karena ini sama sekali bukan hal baru, ternyata banyak menimbulkan pertanyaan tentang konsepsi manual yag sepertinya begitu diagungkan di sini.
Pertanyaan yang selalu bergulir dari mulai penonton yang mempertanyakan ini termasuk seni rupa atau tidak, atau pertanyaan basi dari pers, bahkan pembicaraan yang seharusnya menilik kedalaman suatu karya, harus mengalah karena perbincangan media tampaknya lebih menarik di diskusi malamnya.
Apa yang saya tangkap kemudian adalah perbedaan konsepsi dan referensi. Sangat disadari bahwa Kedai Rupa yang non akademis tentunya memiliki referensi di luar lingkar seni rupa khususnya, yang menjadikan mereka lebih bebas mengintepretasikan segala sesuatu. Sebuah debat seru sempat terjadi dalam diskusi mengenai begitu lenturnya arti teknologi itu sendiri, bahwa kuas sudah berganti dengan mouse, dan kanvas telah berganti dengan monitor, dan pernyataan yang sedikit berbau kemarahan sepertinya, bahwa computer tidak berarti memudahkan segala sesuatu layaknya fenomena instan. Wawancara pribadi saya dengan Kedai Rupa menyimpulkan bahwa begitu banyaknya kemudahan dan keanekaragaman tool dan filter yang ditawarkan, malah akan menghasilkan kesadaran tersendiri akan kemana karya dibawa. Seperti penuturan Hendra Yudiyanto, itu kembali pada pilihan estetis ataupun artistic, karena tidak mungkin menggunakan semua kemudahan komputer itu sendiri untuk satu karya, karena akan ada pemilihan apa yang sanggup dan cukup untuk menginterpretasikan karya tersebut. Dan pernyataan Andreas yang lebih emosional mengenai jika media komputer itu mudah, mengapa sampai saat ini tidak ada yang berani atau pun bisa menggunakannya. Ataupun kekonyolan Ardi yang mengatakan bahwa media sablon baginya adalah High-art, karena ia tidak bisa dan tidak memiliki alatnya. Karena ia hanya memanfaatkan media yang ada dan kemampuan yang dapat dicapai dari media untuk karya itu sendiri. Sama seperti jika pematung dipaksakan untuk melukis dan jika tidak, tidak dapat dikategorikan sebagai perupa(?).
Perbincangan mengenai teknologi komputer memang sampai kini selalu diperdebatkan, karena sangat berbeda jika digital imaging yang lebih dekat ke desain grafis atau wilayah fotografis digunakan dalam wacana seni rupa. Ini mungkin satu kenyataan yang perlu dibuka mengenai begitu beragamnya fenomena artistic seni rupa dan begitu bebasnya interpretasi dibentuk atasnya. Atas pengamatan saya pribadi, bahwa karya ini belum selesai. Pada akhirnya kita tidak perlu membicarakan media, karena menurut saya pun, karya membutuhkan aspirasi spesifik dari keinginan visual penciptanya. Bahwa ketidakpuasan media tentunya merupakan kesadaran tersendiri.
Wilayah artistic yang ditawarkan Kedai Rupa sendiri, terutama dengan computer orientednya, tentunya bagi saya adalah pencapaian yang tidak harus selesai begitu saja. Ada jutaan alternatif ide dalam media sendiri yang harus diekplorasi lebih jauh, Penggunaan image dari citra lain yang dikelola menjadi image sendiri pada akhirnya tentu akan mengalami kejenuhan. Karena dari segi media, komputer sendiri menawarkan alternatif yang sangat panjang untuk dijelajahi, Tenik menggambar ulang, fotografi rekaan sendiri yang dapat discan, diolah, lalu diprint, kemudian digambari lagi, kemudian discan lagi, atau ditambahkan kolase secara langsung, ataupun persentuhannya dengan video art sendiri yang menhadirkan efek suara dan waktu, tentunya adalah penjelajahan tersendiri yang seharusnya menjadi bahan dasar untuk melangkah lebih jauh atas konsekuensi media. Ardi sendiri menyadari bahw ini adalah permulaan. Beban media sendiri pada akhirnya menuntut eksplorasi mendalam tentang konseptualitas karya tersebut mau dibawa ke mana. Sehingga secara praktis menurut saya, media kemudian hanya menjadi alat pemuas, yang kadarnya ditentukan sendiri oleh kemampuan estetis perupanya. Sampai sejauh mana mereka mau melangkah dan kemungkinan apa saja yang mau diraih dari itu. Sehingga pertanyaan seputar media seharusnya tidak relevan lagi dipernyatakan, karena seni rupa sendiri hanyalah berhubungan dengan kata "rupa" yang sangat luas sekali pengelolaannya.
* * *
Melihat kembali dari awal, kekecewaan yang sempat ada dalam wawancara personal yang saya lakukan, adalah factor keingintahuan dan mungkin sekat-sekat feodal yang dikeluhkan Kedai Rupa sendiri secara emosional. Pameran ini memang tidak menghasilkan penonton yang banyak, dari yang tercatat hanya sekitar 200 orang dari 250 pamflet yang disebarluaskan dan hampir 70 undangan yang diberikan. Bertepatannya dengan acara Naissance 1 Malang Art Exhibition di Soekarno Hatta mungkin salah satu faktornya. Walaupun mereka menyatakan dengan tegas ini adalah diskriminasi atas konsekuensi non akademis mereka, namun saya tetap berkata bahwa inilah kenyataan rasa keingintahuan yang minim dari masyarakat Malang sendiri atas hadirnya seni rupa.
Kekecewaan juga sempat terlontar dari tidak maunya DKM (Dewan Kesenian Malang) ataupun seniman menara gading lainnya untuk sekedar hadir, karena menurut penuturan mereka, ini kali kedua mereka mengundang DKM dan seniman-seniman akademis lainnya, dan keduanya tidak terdatangi, kecuali sebagian kecil yang memang telah akrab secara personal.
Untuk hal ini, saya mungkin tidak mau berkomentar, karena inilah realitas yang mungkin harus dipahami betul. Sepertinya memang trend akademis-non akademis, high art-low art, ataupun media, masih menjadi pembahasan yang stereotipikal di Malang. sebagai kota ketiga dalam seni rupa di Malang, mungkin inilah kenyataannya. Faktor keingintahuan atas kebaruan, referensi, ataupun intensitas karya yang tidak harus selalu dipandang dari segala sudut yang mengikutinya, mungkin belum menjadi budaya lokal.
Sebuah perjuangan tiada akhir tentunya, tawa saya. Karena sesungguhnya secara pribadi saya tidak menemukan kebaruan apa-apa yang ditawarkan Kedai Rupa, karena ternyata pula konsepsi kebaruan itu sangatlah lokalis, pencapaian mereka adalah pencapaian yang telah lama dilakukan di kota-kota lain. Sedangkan penilaian kebaruan dan pembahasan mengenai segala sesuatu atasnya, sangatlah subyektif. Kembali pada sejauh mana referensi yang kita miliki atasi seni rupa dewasa ini. Dan akan dikemanakan realitas seni rupa di Malang ini beserta konsekuensinya?
auditorium itn malang, 31 maret – 02 april 2003. 09.00 – 17.00 wib.
diskusi 31 maret 2003. 19.00 wib – selesai.
anonim space
media kajian senirupa
jl. kerapu 8. blimbing. malang. jawa timur. Indonesia. 65125
phone. 0341 479656. email. anonimspace @yahoo.com