Namun ketika telor bukan lagi makanan istimewa (sebab ada semacam adigium:
mengucap pesan makan "nasi biasa" artinya "nasi sayur tanpa telor" - biasa ra
nggo ndog), ketika petani tidak lagi membajak sawahnya dengan garu-luku yang
dfta6k hewan piaraannya (sapi-kerbau), ketika tidak ada lagi orang (laki-perempuan)
mengunyah sirih, maka eksotisitas ketiga benda "identitas pasar malam Sekaten"
itu, memudar sihir makna dan pengaruhnya. Kini, siapa yang percaya mengunyah
sirih sembari mendengar alunan gamelan Sekaten menyebabkan awet muda? Dulu, cita
rasa gigi indah bukan putih bersih melainkan hitam bersih mengkilap. Warna
demikian hanya bisa dicapai apabila "rajin makan sirih' (dan rajin sisig dengan
ramuan tertentu). Kini, gantinya sirih adalah pasta gigi!!! Semua orang pakai
pasta gigi kan? Padahal dari segi kesehatan, tidak terlalu ada perbedaan yang
signifikan menggosok gigi dengan atau tanpa pasta gigi.
Wehlha, bicara pasar seni malah bicara odol Apa hubungannya? Ya, tidak ada
hubungannya. Tapi, mestinya, pasar seni bukan tempat orang berjualan odol!" (baca:
kebutuhan sehari-hari). Jadi, pertama, pasar seni sebenarnya bukan arena
penjualan barang sehari-hari. Kalaupun menjual barang seharihari sebaiknya bukan
barang "seragam" (massproduct - produk massal). Kalau jualan wurung
bantal, ya wurung bantal yang sudah "digayakan". Celakanya, barang yang
fungsional sehari-hari itulah yang lebih banyak dibutuhkan masyarakat dan bisa
tidak merasa sia-sia apabila membelinya. Cobalah tengok, apakah Anda yakin
apabila seorang bapak membeli lukisan seluruh anggota keluarganya "seratus
persen setuju" ?
Salah satu tugas "seniman" adalah menyenikan kehidupan sehan-hari. Kenapa
tiang lampu penerangan jalan di sepanjang Jalan Malioboro harus dibuat
berelung-relung dari besi cor, dicat hijau, kuning, merah seperti cat ornamen di
rumah bangsawan hingga sepertinya tetap saja indah meski lampunya pada mati dan
jauh meninggalkan fungsi praktisnya? Itulah salah satu tanda, bahwa orang tidak
cukup dengan "benda dan fungsi" . Orang merasa perlu "menyenikan" benda-benda
fungsional yang dimilikinya. Kedua, pasar seni seyogyanya menyediakan
barang fungsional yang telah "disenikan", bukan tempat orang berjualan barang
wantah, tanpa nilai seninya.
Bagaimana menyenikan benda sehari-hari? Disitulah, kreativitas dan gagasan
orisinal mendapatkan tempatnya. Aspek gagasan, desain, teknis pembuatan dan
kualitas bahan serta sentuhan akhir pada setiap item produk dapat menjadi
variabel ukur atas karya-karya yang ditampilkan. Jadi, ketiga, pasar seni
seyogyanya juga menyodorkan gagasan cerdas. Suatu gagasan yang mendorong
dinamika inspirasi dan tindakan pengembangan lebih lanjut. Gagasan cerdas lahir
dari suatu proses psikologis yang tidak sederhana dan tidak selalu dalam bentuk
"sekali jadi". Karenanya, keempat, pasar seni seyogyanya menjadi forum
eksperimentasi penciptaan karya seni. Spirit mencoba dan menguji hasil
kreativitas di depan publik harus ada dalam dada setiap peserta pasar seni.
Kalau hanya menyajikan benda ulangan, apa bedanya dengan kios pinggir jalan?
Pasar seni memang seni memilih barang yang akan disajikan. Disajikan untuk
apa? Disajikan untuk dijual. Dijual? Ya, dijual. Kenapa? Berjualan, satu sisi
yang diinginkan (kelarisannya) tetapi tidak tegas dinyatakan. Niat menjadi
peserta pasar seni, niat berjualan. Kredo pedagang, beli serendahnya jual
setingginya. Kalau lagi apes, ya, asal balik modal. Yang paling apes lagi, ya
asal bisa buat bayar stand!! Kelima, pasar seni seyogyanya mendorong dan
menciptakan iklim dagang yang kondusif. Barang bagus, penyajian bagus, pembeli
pun harus bagus. Jadi yang dibutuhkan pasar seni bukan hanya penonton, lebih
penting dari itu, pembeli. Banyak pasar seni yang dikelola dengan usaha
mendatangkan sebanyak mungkin penonton. Yang apes, jangankan pembeli, penonton
pun tak adal!! (Lebih baik penonton sedikit tetapi pembeli semua daripada
penonton bludak tapi tak ada yang belanja. Nah, lebih baik lagi kalau, penonton
banyak,dan semuanya berbelanja!!!). Iklim dagang yang kondusif itu seperti apa,
yaitu apabila, keenam, pasar seni mampu mengubah semua penonton menjadi
pembeli-pembeli yang baik dan benar. Artinya, setelah penonton masuk arena pasar
seni harus ada "rayuan tersistem" yang membuat mereka ringan tangan mencabut
uang dari dompetnya.
Orang sering bertanya, pasar seni itu pendekatannya pasar atau seni. Pasar
seni atau seni pasar? Pasar seninya seni dan seninya pasar seni. (Atau, pasar
seninya pasar, pasamya pasar seni. Hah!) Dua rentang ketegangan yand harus
dikelola harmonis. Dan, ketujuh, pasar seni harus jelas pasamya. Siapakah
pembeli di pasar seni? Segmentasi pengunjung harus dibedakan antara pengunjung
apresian dan pengunjung potensial (pembelanja). Apabila pasar seni hanya
mengharapkan penjualan eceran dari pengunjung rumah tangga, apa bedanya dengan
pasar malam? Sebagaimana layaknya sebuah pasar, pasar seni harus tetap terbuka
untuk siapa saja. Sebagai sebuah kesatuan usaha bersama, pasar seni juga harus
bisa menggalang pengunjung yang jelas segmentasinya.
Lalu, ukuran kebehasilan pasar seni itu, teletak pada besarnya omzet
penjualan dan nilai keuntungannya atau pada banyaknya luncuran gagasan orisinal
dan karya-karya eksperimen? Jangan pilih salah satu, ya kedua-duanya saja. Namun
yang lebih penting dari itu, kedelapan, proses penjualan (traksaksi) dan
luncuran gagasan baru yang terjadi di pasar seni harus memiliki kesinambungan.
Artinya, pasar seni harus mampu mendorong agar "peristiwa ekonomi" dan "peristiwa
seni" yang terjadi di dalamnya dapat memiliki kesinambungan, tindak lanjut dan
peningkatan usaha dan kreativitas di luar pasar seni. Jadi, kesembilan,
pasar seni bukan institusi permanen dan final melainkan hanyalah sebuah
institusi perantara. Pasar seni bukan tujuan melainkan cara.
Pasar seni adalah peristiwa biasa. Peristiwa yang selalu ada dalam setiap
transaksi dan sirkulasi kebutuhan dari era barter, era mata uang, era kertas
berharga, transfer digital, sampai dengan "uang virtual" di abad informatika.
Suatu peristiwa universal yang terjadi dalam setiap pergulatan manusia
mempertahankan hidupnya, yang terkadang supaya sedap harus dibumbui dengan
balutan nilai-nilai artistik. Itulah yang menjadi hidup lebih hidup, lebih indah.
Kesepuluh, pasar seni punya tugas membuat hidup lebih indah.
Purwadmadi Admadipurwa, bukan siapa-siapa.
Disampaikan pada Sarasehan Pasar Seni FKYXIV- 2002, Museum Benteng 28 Juni 2002
BanyuMILl Media Sinergi
Karangjati MT I/169 Yogya 55284
adm@kompascyber.com