:: Halaman Depan  :: Berita & Referensi  :: Kirim Berita  :: Artikel-Artikel  :: Forum  :: File Download  :: FAQ  :: Komposisi hari ini 
 
27/05/2003 22:06 - Pasar-Seninya Seni, Seninya Pasar Seni
Dikirim oleh redaksitulisan lain soal
Seni dan DesainKALAU bicara pasar seni, orang sering menengok ke (sejarah) pasar seni di Kampus ITB sebagai tolok ukur kecikalbakalannya. Cobalah, kita menengok sebentar pada kehidupan tradisi di sekitar kita. Orang sering lupa, apa yang sebenarnya terjadi di balik pasar seni itu. Yang segera dapat ditangkap maknanya adalah "arena penjualan benda dan karya seni". Endog abang, pecut dan kinang yang dapat dijumpai dalam pasar malam perayaan sekaten, dapat dipandang sebagai *benda-benda seni* yang memang eksotis karena lebih banyak mengemban fungsi keunikannya dadpada fungsi pragmatiknya. (Konon, tanda seni itu di antaranya: "makin jauh dah fungsi hidup keseharian bagi.kebanyakan orang, di situlah seni terletak').
 

Namun ketika telor bukan lagi makanan istimewa (sebab ada semacam adigium: mengucap pesan makan "nasi biasa" artinya "nasi sayur tanpa telor" - biasa ra nggo ndog), ketika petani tidak lagi membajak sawahnya dengan garu-luku yang dfta6k hewan piaraannya (sapi-kerbau), ketika tidak ada lagi orang (laki-perempuan) mengunyah sirih, maka eksotisitas ketiga benda "identitas pasar malam Sekaten" itu, memudar sihir makna dan pengaruhnya. Kini, siapa yang percaya mengunyah sirih sembari mendengar alunan gamelan Sekaten menyebabkan awet muda? Dulu, cita rasa gigi indah bukan putih bersih melainkan hitam bersih mengkilap. Warna demikian hanya bisa dicapai apabila "rajin makan sirih' (dan rajin sisig dengan ramuan tertentu). Kini, gantinya sirih adalah pasta gigi!!! Semua orang pakai pasta gigi kan? Padahal dari segi kesehatan, tidak terlalu ada perbedaan yang signifikan menggosok gigi dengan atau tanpa pasta gigi.

Wehlha, bicara pasar seni malah bicara odol Apa hubungannya? Ya, tidak ada hubungannya. Tapi, mestinya, pasar seni bukan tempat orang berjualan odol!" (baca: kebutuhan sehari-hari). Jadi, pertama, pasar seni sebenarnya bukan arena penjualan barang sehari-hari. Kalaupun menjual barang seharihari sebaiknya bukan barang "seragam" (massproduct - produk massal). Kalau jualan wurung bantal, ya wurung bantal yang sudah "digayakan". Celakanya, barang yang fungsional sehari-hari itulah yang lebih banyak dibutuhkan masyarakat dan bisa tidak merasa sia-sia apabila membelinya. Cobalah tengok, apakah Anda yakin apabila seorang bapak membeli lukisan seluruh anggota keluarganya "seratus persen setuju" ?

Salah satu tugas "seniman" adalah menyenikan kehidupan sehan-hari. Kenapa tiang lampu penerangan jalan di sepanjang Jalan Malioboro harus dibuat berelung-relung dari besi cor, dicat hijau, kuning, merah seperti cat ornamen di rumah bangsawan hingga sepertinya tetap saja indah meski lampunya pada mati dan jauh meninggalkan fungsi praktisnya? Itulah salah satu tanda, bahwa orang tidak cukup dengan "benda dan fungsi" . Orang merasa perlu "menyenikan" benda-benda fungsional yang dimilikinya. Kedua, pasar seni seyogyanya menyediakan barang fungsional yang telah "disenikan", bukan tempat orang berjualan barang wantah, tanpa nilai seninya.

Bagaimana menyenikan benda sehari-hari? Disitulah, kreativitas dan gagasan orisinal mendapatkan tempatnya. Aspek gagasan, desain, teknis pembuatan dan kualitas bahan serta sentuhan akhir pada setiap item produk dapat menjadi variabel ukur atas karya-karya yang ditampilkan. Jadi, ketiga, pasar seni seyogyanya juga menyodorkan gagasan cerdas. Suatu gagasan yang mendorong dinamika inspirasi dan tindakan pengembangan lebih lanjut. Gagasan cerdas lahir dari suatu proses psikologis yang tidak sederhana dan tidak selalu dalam bentuk "sekali jadi". Karenanya, keempat, pasar seni seyogyanya menjadi forum eksperimentasi penciptaan karya seni. Spirit mencoba dan menguji hasil kreativitas di depan publik harus ada dalam dada setiap peserta pasar seni. Kalau hanya menyajikan benda ulangan, apa bedanya dengan kios pinggir jalan?

Pasar seni memang seni memilih barang yang akan disajikan. Disajikan untuk apa? Disajikan untuk dijual. Dijual? Ya, dijual. Kenapa? Berjualan, satu sisi yang diinginkan (kelarisannya) tetapi tidak tegas dinyatakan. Niat menjadi peserta pasar seni, niat berjualan. Kredo pedagang, beli serendahnya jual setingginya. Kalau lagi apes, ya, asal balik modal. Yang paling apes lagi, ya asal bisa buat bayar stand!! Kelima, pasar seni seyogyanya mendorong dan menciptakan iklim dagang yang kondusif. Barang bagus, penyajian bagus, pembeli pun harus bagus. Jadi yang dibutuhkan pasar seni bukan hanya penonton, lebih penting dari itu, pembeli. Banyak pasar seni yang dikelola dengan usaha mendatangkan sebanyak mungkin penonton. Yang apes, jangankan pembeli, penonton pun tak adal!! (Lebih baik penonton sedikit tetapi pembeli semua daripada penonton bludak tapi tak ada yang belanja. Nah, lebih baik lagi kalau, penonton banyak,dan semuanya berbelanja!!!). Iklim dagang yang kondusif itu seperti apa, yaitu apabila, keenam, pasar seni mampu mengubah semua penonton menjadi pembeli-pembeli yang baik dan benar. Artinya, setelah penonton masuk arena pasar seni harus ada "rayuan tersistem" yang membuat mereka ringan tangan mencabut uang dari dompetnya.

Orang sering bertanya, pasar seni itu pendekatannya pasar atau seni. Pasar seni atau seni pasar? Pasar seninya seni dan seninya pasar seni. (Atau, pasar seninya pasar, pasamya pasar seni. Hah!) Dua rentang ketegangan yand harus dikelola harmonis. Dan, ketujuh, pasar seni harus jelas pasamya. Siapakah pembeli di pasar seni? Segmentasi pengunjung harus dibedakan antara pengunjung apresian dan pengunjung potensial (pembelanja). Apabila pasar seni hanya mengharapkan penjualan eceran dari pengunjung rumah tangga, apa bedanya dengan pasar malam? Sebagaimana layaknya sebuah pasar, pasar seni harus tetap terbuka untuk siapa saja. Sebagai sebuah kesatuan usaha bersama, pasar seni juga harus bisa menggalang pengunjung yang jelas segmentasinya.

Lalu, ukuran kebehasilan pasar seni itu, teletak pada besarnya omzet penjualan dan nilai keuntungannya atau pada banyaknya luncuran gagasan orisinal dan karya-karya eksperimen? Jangan pilih salah satu, ya kedua-duanya saja. Namun yang lebih penting dari itu, kedelapan, proses penjualan (traksaksi) dan luncuran gagasan baru yang terjadi di pasar seni harus memiliki kesinambungan. Artinya, pasar seni harus mampu mendorong agar "peristiwa ekonomi" dan "peristiwa seni" yang terjadi di dalamnya dapat memiliki kesinambungan, tindak lanjut dan peningkatan usaha dan kreativitas di luar pasar seni. Jadi, kesembilan, pasar seni bukan institusi permanen dan final melainkan hanyalah sebuah institusi perantara. Pasar seni bukan tujuan melainkan cara.

Pasar seni adalah peristiwa biasa. Peristiwa yang selalu ada dalam setiap transaksi dan sirkulasi kebutuhan dari era barter, era mata uang, era kertas berharga, transfer digital, sampai dengan "uang virtual" di abad informatika. Suatu peristiwa universal yang terjadi dalam setiap pergulatan manusia mempertahankan hidupnya, yang terkadang supaya sedap harus dibumbui dengan balutan nilai-nilai artistik. Itulah yang menjadi hidup lebih hidup, lebih indah. Kesepuluh, pasar seni punya tugas membuat hidup lebih indah.

Purwadmadi Admadipurwa, bukan siapa-siapa.
Disampaikan pada Sarasehan Pasar Seni FKYXIV- 2002, Museum Benteng 28 Juni 2002

BanyuMILl Media Sinergi
Karangjati MT I/169 Yogya 55284

adm@kompascyber.com


Kirim komentar anda
Jika anda anggota anda bisa kirim komentar. Bila anda ingin mendaftar, silahkan e-mail webmaster@stieken.ac.id
  Menu

Halaman Depan
Berita & Referensi
Kirim Berita
Artikel-Artikel
Forum
File Download
FAQ
Komposisi hari ini
Pesan Antar User
Documents
Artikel HTML
Daftar Link
Register
Account-Ku
Statistik
Hubungi kami


  Redaksi

Semua tulisan dan artikel yang dimuat di sini, sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Bila ingin memuatnya dalam media lain, mohon tuliskan URL kami di bawahnya.

Redaksi: redaksi@endonesa.net

RSS



  Cari & Komunitas

Diskusi via Email

Milis Page


  Organ Baru

  • Indie Comic
    Situs jaringan komik dan distro komik independen Indonesia
  • Jaring Endonesa
    Direktori komunitas dan perseorangan yang giat berkreasi dan berbagi
  • PJ-11
    Merupakan situs mini kru Endonesa.net dan penghuni markas Jl. Puncak Jaya
  • Art4daWorm
    eZine seni dan budaya dari Silluet Art Media
  • cinemaHolic
    website pengamat, penggemar, dan pengkarya sinema mandiri lokal yg gak alergi juga sama produk interlokal :)
  • Malang Studies
    Pustaka Budaya dan Sejarah Malang Raya,dapat juga diakses di www.malang.tk


  Komposisi hari ini



  Login

Login:

Password:

ingatlah aku

Register', Gratis!
Lupa password?

  Users Online

Pengunjung:
0 user yang terdaftar
dan 1 tamu online saat ini.

  Advertorial





  Prakarya

DVCdsign
Siar onLine
IndieTown

Referensi Studi tentang Malang Raya dan Sejarahnya, bisa juga diakses langsung di sini

  Page processed in 0.012 seconds

Endonesa interface v.03
Designed by DVCdsign, @ 2003