Pameran Seni Campur ini berangkat dari sebuah pemikiran yang serius tentang kebudayaan. Ucup, salah seorang juru bicara para "seniman" ini memberikan
gambaran seni campur adalah sebagaimana tumbuhnya para pedagang ayam goreng di pinggir-pinggir jalan yang mirip-mirip fried chicken aslinya dari Amerika. Bagi Ucup hal tersebut menunjukkan kekuatan lokal jenius.
Salah satu tujuan dari seni campur ini adalah untuk menyaring seni budaya yang dipaksakan masuk lewat sistem budaya hegemoni kekuasaan.
Bentuk seni campur mereka menjadi bermacam-macam. Beberapa di antaranya membuat gambar, selain beberapa karya semi tiga dimensional. Yang terlihat dari keseluruhan pembuatan karya, pemilihan media, bentuk-bentuk gambar, dan pemilihan judul ada satu sikap atau semangat yang sama, yaitu bermain.
Seni campur mereka ini dari pemikiran yang serius dan kritis tentang kebudayaan dilakukan lewat pola permainan. Seperti bermain dengan benda-benda pakai (ready made) dan bermain-main dengan citra dan tanda yang dikenal orang.
Gaya dan aliran di sini menjadi sebatas elemen yang siap mereka jadikan bahan untuk dicampur dalam seni mereka.
Pameran ini mengajak kita menikmati suguhan seni campur versi anak-anak Gampingan masakini, yang di sana kita tahu pernah lahir banyak seniman
'besar', banyak terjalin perdebatan-perdebatan dan pentas kesenian, dan yang sekarang jadi markas Taring Padi, kelompok seni yang banyak bicara
kerakyatan. Kita tidak bisa lepas dari itu semua untuk melihat cap Gampingan dalam Kelompok Pekerja Seni Gampingan ini.
Amanda Guimeraiz-Rath
Ph.D. Candidate Cornell University
Gelaran Budaya, 25 Mei s.d. 3 Juni 2002
Kelompok Pekerja Seni Gampingan:
Bob Yudhita, Didit Sukmara, Iwan Wijono, Nugrahanto Widodo, Mat Ucup,
dan Yustoni Volunteero.