Acara yang
diprakarsai HMJ Seni dan Desain-UM, pada 6-10 Oktober 2003 di gedung Sasana
Krida Universitas Negeri Malang itu menghadirkan rentetan mata acara seminar,
pameran, performance art, pemutaran dan diskusi karya animasi lokal, serta
dimeriahkan dengan gelaran berbagai lomba. Nyaris tak ada perbedaan format dan
keragaman yang mencolok dalam event yang diikuti 14 studio komik itu
dibandingkan dengan event-event sejenis berskala sama.
Perbedaan yang ada,
mungkin jika dibandingkan dengan kegiatan yang berselisih sebulan darinya, PEKAN4.
Acara yang disebut terakhir ini, memang terbilang cukup akbar dan memanjakan
pesertanya. 20 studio komik yang mengikutinya, tak hanya berasal dari Indonesia.
Studio komik dari negeri tetangga seperti Kamboja juga turut berpartisipasi.
Belum lagi jika dibandingkan dengan event pada bulan Maret lalu, Pekan
Komikasia, yang diselenggarakan di ITB.
Dalam hal
penampilan dan gaung, jelas PKI-3 berbeda jauh dengan PEKAN4. “Mestinya itu
bukan masalah. Keduanya memang bukan untuk diperbandingkan”, tukas Beng
Rahadian. Staf pengajar ISI yang juga mantan panitia PEKAN4 itu dalam
kesempatan itu juga menjadi partisipan PKI-3. “anggap saja PEKAN kemaren itu
keberuntungan kita hingga bisa dapet dukungan dana dari Diknas”.
Sedianya, event
perkomikan itu ingin mengusung tema online comic sebagai bentuk
diversifikasi media komik Indonesia.
“Acaranya gak
nyambung dengan temanya. Mungkin tema yang diangkat itu terlalu berat untuk sekarang”,
tukas Nangnang dari studio Badjak Laoet. Studio komik dan animasi dari Malang
itu tercatat mengikuti Pekan Komik Indonesia sejak PKI pertama. “Rasanya kita
belum saatnya tuh ngangkat tema ini. Apalagi kalau komik online mau dijadikan
media baru dalam berkomik”, dukung Iyok dari Bengkel Qomik yang berasal dari
Solo, di kesempatan berlainan.
Selain menuai
keluhan dari peserta maupun pengunjung, PKI-3 juga banyak mendapat pujian
karena mampu memunculkan suasana lebih akrab antar semua elemennya. Suasana
macam inilah yang sebenarnya diharapkan dari event-event komunitas indie.
Keputusan Penting
Diam-diam, di luar
agenda yang direncanakan panitia PKI-3, terjadi pertemuan insidental yang punya
makna penting. Dalam pertemuan usai penutupan pameran hari ke-2, berkumpul
perwakilan-perwakilan 14 studio komik yang menyertai PKI-3. Di situ mereka berusaha
memformulasikan dan merevitalisasi pergerakan komik Indonesia. Nyaris tak ada
isu baru yang diangkat dalam pertemuan itu. Masalah seputar keberadaan database
nasional, information centre, dan pusat dokumentasi, masih menjadi isu sentral
dalam pertemuan itu.
“Kita kecolongan
lagi. Dalam Art Biennale mendatang, event itu akan mengangkat tema pengaruh
komik dalam senirupa. Belum lagi, di buku Komik Indonesia, banyak sekali yang
terlewatkan. Masak nama komikus sebesar Teguh Santosa bisa gak masuk dalam
bahasannya?”, ekspos Beng Rahadian. Beliau mengungkapkan fakta-fakta menarik
sebagai lambaran perlunya keberadaan sebuah pusat dokumentasi perkomikan
Indonesia. Dalam kesempatan itu pula, disosialisasikan keberadaan Rumah Komik
di Jogja sebagai inisiatif aktifitas dokumentasi perkomikan nasional.
Keberadaannya setidaknya dimotori oleh Komikaze, dan galeri komik Daging
Tumbuh. Meski demikian, mereka menandaskan bahwa Rumah Komik bukanlah semata
milik para penggagasnya, dan akan senantiasa menjadi ajang terbuka.
Dalam ajang yang
sama, MKI (Masyarakat Komik Indonesia) juga mengokohkan formatnya sebagai
jaringan fraktal terbuka setelah bertukar pendapat dengan peserta lainnya.
Dengan format baru itu, dimungkinkan keberadaan MKI-MKI di daerah-daerah yang
jauh dari jangkauan Jakarta.
“Kita ingin MKI
bisa jadi milik kita bersama dan networknya bisa jalan. Gak perlu ada pusat
atau pinggiran, sehingga semua yang di sini bisa bilang: aku orang MKI”, cetus
Bang Firmansyah yang semenjak awal getol mensosialisasikan visinya.
Menurut Agung dari
Komikaze Jogja, “yang penting bukan nama MKI-nya, tapi inisiatif masing-masing
elemen untuk menyumbangkan potensinya bagi perkembangan perkomikan”.
Pertemuan itu
akhirnya juga menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain pembangunan
database komik berbasis web yang akan dimotori Komikaze99.com, Endonesa.net,
dan MKI Jakarta. Selain itu, masing-masing juga bertindak sebagai inisiatif
pusat informasi di daerahnya masing-masing.
Arus bawah
PKI-3 bolehjadi
sudah berhasil menjadi ajang gathering dan eksposur karya komikus nasional.
Namun hal itu tentu tak bisa membuat suara-suara ketidakpuasan publik atasnya
dilalaikan begitu saja.
“Sayang sekali, Dik.
Saya ini sebetulnya ke sini ingin cari komik anak, tapi nggak ada”, keluh
seorang ibu yang sudah dengan tekun berkeliling dari satu stand ke stand
lainnya bersama si buah hati. Karya-karya komik yang ada dari berbagai event
komik nasional, termasuk PKI-3, menunjukkan belum adanya diversifikasi
segmen pasar komik dari sudut usia. Dari segmen usia, semua karya komik memang
masih ditujukan untuk kalangan muda. Keberadaan komik anak-anak, yang notabene
merupakan konsumen terbesar komik, masih belum terpenuhi sebagaimana mestinya.
Selain itu, sebagai
sebuah event berlabel Indonesia, hendaknya PKI-3 tak hanya melibatkan
studio-studio komik di Jawa saja. “Namanya gak sesuai dengan acaranya”, tanggap
Sosiawan Hari.
Gelaran kali inipun
boleh dibilang tak seramai gelar PKI-1 dari segi kemeriahan dan volume
pengunjung.
“Mungkin karena
venuenya di kampus, yang dateng kurang banyak. Banyakan panitia dari
pesertanya”, saran Tika partisipan dari Jogja dengan sedikit berseloroh. Gadis
berjilbab ini mengatakan, bahwa ramainya acara PEKAN4 bolehjadi juga karena
faktor lokasi. PEKAN4 berlokasi di area Malioboro, belakang Benteng Vredenburg.
Rupanya,
suara-suara keluhan itu beberapa sudah sampai juga ke telinga panitia. “Banyak
yang mengeluhkan tampilan visualnya yang kurang matang. Yang dibutuhkan memang
tampilan visual yang lebih menyatu sebagai sebuah acara pameran bersama”,
ungkap Sasa yang menjadi anggota steering comittee dalam acara itu.
Yang unik
Stand milik
komunitas portal, menghadirkan nuansa lain dibanding stand-stand lainnya. Jika
stand studio komik lainnya memajang karya-karya komik dan berjualan komik
beserta merchandisenya, lain halnya dengan yang satu ini.
Portal menghadirkan
“Comic In Box”, yang ternyata merupakan bentukan alternatif menampilkan komik.
Komik tak hanya bermediakan kertas, namun juga bisa dengan tata lampu dan
suara—seperti yang mereka sajikan. Tiap hari, tontonan yang hanya berkapasitas
1 orang tiap kali pemutaran itu hampir tak pernah sepi dari antrean pengunjung.
Judul, tata visual, dan konfigurasinya senantiasa memancing rasa penasaran. Tak
heran kalau TPI dan RCTI dalam liputannya juga melirik kreatifitas mereka itu.
Yang tak kalah
unik, adalah kehadiran studio Rumpee dari Jakarta. Selain dekorasinya yang
minimalis, pemilik standnya juga tak pernah nampak di lokasi!!
words by Dhista, as requested by panitia PKI-3