Baru-baru ini ibukota republik realis magis ini
menyaksikan sebuah pameran-tunggal seni rupa di salah
satu institusi seninya yang besar, Bentara Budaya.
Event yang juga memamerkan instalasi patung seniman
Dadang Christanto itu ternyata menimbulkan reaksi,
protes dari sekelompok orang yang mengklaim sebagai
representasi masyarakat sekitar tempat pameran, "warga
setempat".
"Ketelanjangan" patung-patung yang di-instal di
halaman di luar gedung galeri dianggap tidak layak
bagi pandangan "mata", merupakan sebuah pornografi.
Pameran instalasi patung "telanjang" itu pun akhirnya
dihentikan, semua patung di-deinstal, dan di bekas
tempatnya dipasang sebuah instalasi baru, sebuah "batu
nisan" kotak hitam bertabur bunga. Diberi epitaf: "Di
sini pernah dipamerkan karya instalasi Dadang
Christanto berjudul Mereka Memberi Kesaksian."
Sebuah pameran seni rupa dalam sebuah institusi seni
besar telah menjadi korban kesewenang-wenangan
"pembacaan teks" sepihak, korban dari monopoli
"kebenaran" interpretasi seni, korban kegagalan kritik
seni. Bagai sebuah penyakit menular, patung-patung
berbahaya itu disingkirkan, diasingkan ke tempat yang
paling jauh dari ruang publik yang mesti aman dan
tenteram. Mungkin ke sebuah gudang, gulag archipelago
bagi semua yang tidak diinginkan. Kekerasan politik
interpretasi telah terjadi di tengah-tengah ruang
publik reformasi di pusat kekuasaan republik realis
magis ini.
Dimana relasi intertekstual kedua peristiwa yang
mengklaim "seni" sebagai ideologi masing-masing ini?
Forum Seniman Jakarta dibentuk oleh sekelompok seniman
yang mewakili pluralitas genre dan aliran gaya untuk
melawan kekuasaan hegemoni yang berbahaya bagi
kehidupan seni di Jakarta dan Indonesia. Instalasi
patung Dadang Christanto dibuat sebagai usaha memori
melawan lupa demi menegakkan kebenaran sejarah tapi
dikorbankan oleh sebuah institusi seni yang "memilih"
kompromi terhadap monopoli "kebenaran" interpretasi
oleh sebuah kelompok yang mengklaim mewakili entitas
semu bernama "warga setempat".
Dimanakah "suara" Forum Seniman Jakarta dalam skandal
pameran-tunggal Dadang Christanto ini? Bukankah sudah
jadi "kewajiban" mereka juga untuk melawan
kediktatoran interpretasi yang sampai mengorbankan
seni ini, apalagi "pelecehan seni" ini terjadi di
wilayah yang mereka klaim sebagai ruang hidup mereka?
Ataukah Forum Seniman Jakarta hanyalah sekelompok
homopoliticus dalam panggung Animal Farm bernama Taman
Ismail Marzuki, yang lebih tertarik pada perebutan
kekuasaan beng-cu golongan sendiri ketimbang membela
keadilan di seluruh dunia kangouw?
*Saut Situmorang, pencinta cersil Kho Ping Hoo tinggal
di Bantul