Kota Malang memang masih menyisakan kenangan sebagai kota pelajar terbesar di
kawasan Timur, atau romantika lama sebagai kota wisata sejak era kompeni.
Generasi Arek Malang kini lebih teridentifikasi sebagai Aremania dengan semua
atribut kebanggannya. Gak ada nuansa kota nyeni di atribut itu layaknya kota
pendidikan lainnya, CMIIW.
Apa kabar seniman kota Malang? Untungnya masih ada seniman kaki lima yang
menamakan diri SEIKIL (Seniman Kaki Lima) di trotoar-trotoar pusat kota. Juga
masih ada pengrajin topeng kayu di penjuru, keramik Dinoyo yang terkenal hingga
negeri manca, seniman-seniman tradisional yang rajin bikin pementasan,
komunitas-komunitas seni yang numbuh subur di pelosok kampus, bahkan pegiat seni
yang nggak jelas macam kami, hehehe. Tanyakan saja kabar kesenian Malang pada
mereka, jawabannya paling enggak bakal sama.
Kbetulan, di tengah iklim tandus berkesenian, ada saja pihak-pihak yang ikut
cawe-cawe mengiklimkan lagi nuansa seni di Malang. Galibnya, itu bukan dari
kalangan pemerintah kota setempat (kayaknya mereka terlalu ribut dengan proyek2
baru daripada noleh ke dunia kesenian yang nggak njanjikan banyak duit).
Pekan ini, kabarnya ada kumpulan anak muda yang akan bikin event seni.
Kelompok kawan kita ini menamakan dirinya KRAM (Kesenirupaan Rakyat Malang). Yg
bikin menarik, acara kesenian ini dikemas dg konsep zonder sekat. Sekat antar
aliran, media, latar belakang, senioritas, berusahan dinisbikan. Pokoke mereka
ngotot bahwa Malang adalah kota yg masih punya ribuan potensi berkesenian yang
belum tergali dan bisa ditumbuhkan. Beralaskan warna kultur Malang yang
egaliter, mereka optimis acara itu bakal bikin greget baru.
Space yang mereka gunakan untuk event ini juga lumayan unik. Dengan
menggunakan public space macam alun-alun kota, mereka berusaha untuk melepas
jarak dengan publik awam—turun gunung rame2 dari pertapaan seniman yang
dicitrakan selalu eksklusif itu. Kesenian tumbuh dari rakyat, dan memang
seharusnya dikembalikan pada mereka tanpa ambil jarak. Mungkin sejak seniman
kita kena pengaruh barat-modern, mereka jadi merasa punya hak untuk ambil jarak
dari publik. (Jadi inget puisinya Rendra yg ngeluh karena lahir “penyair-penyair
salon yang mabuk di kaki dewi kesenian yang mereka puja”).
Tanggal 10, Sabtu, akhir pekan ini kita lihat saja perhelatan mereka di alun2
kota Malang. Saya juga lumayan penasaran dengan event mereka ini.
Yudhista Aditya,
Pengamat apa saja, tinggal di Malang