Karya-karya lukis Eric Chan ini menitikberatkan pada tema-tema feminim yang bercirikan realisme-fotografis dan sangat memikat mata penikmatnya. “Secara filosofis karya-karya yang dipamerkan tersebut merupakan sebuah penekanan pada lautan pergerakan figure-figur dan pengalaman emosi”, ungkap Lie En Chong seorang pengamat sekaligus kurator seni dari Malaysia kepada penulis.
Tanpa terlebih dulu menariknya kedalam pergumulan pemikiran dan perenungan serta antusiasme, orang tidak akan bias memandang karya seni Eric Chan atau mengapresiasi keunggulan mutu estetika dengan obyektifitas yang purna. Lukisan-lukisannya seperti yang berjudul Silent Still in Lavender, Crimson Blossom, Spring Dew, Back Street dan lain-lainnya, secara fisik sisi realismenya memiliki kedataran dan permukaan terlihat sebening gelas bak sebuah kolam air dengan citra-citra ambigu yang berenang dan bermunculan ke permukaan dan tentunya akan menimbulkan impresi tertentu.
Dari sisi komposisi, karyanya sangat mirip dengan karfa fotografi di mana pada proses ini diperlukan keahlian dalam memilih sudut pandang, zom in, pencahayaan, kecepatan dan ketepatan fokusnya. Secara mendalam dari karya-karya Eric ini bias dinilai memiliki focus yang bermuara pada kehalusan serta kejelasan pendirian dalam hidup berkeseniannya. Tetapi kemiripan itu akhirnya bias dibedakan ketika sebuah karya fotografi pada kesempatan yang sama dan secara langsung menangkap memen disuatu waktu, karya-karya Eric Chan menawarkan hal yang baru tentang sudut enigma hidup, sesuatu yang lebih esensial dan abadi. Sebuah pengendalian emosi menuju alam nalar dan akhirnya bermuara pada sebuah potret konflik antara ego, ide, insting, dan intelektualitas yang bisa diselami penikmat karya seni sebagai sebuah refleksi mediatif untuk membentuk opini anyar tentang realisme fotografis.
Eric Chan melalui karya-karyanya secara lembut menerbangkan kesadaran pada ingatan yang tak terlupakan dan memori yang lamat-lamat terdengar seperti bak sebuah harmoni dari catatan yang mendalam atau bau harum yang melintas yang kemudian ditangkap semuanya dalam sekali tarikan napas ‘panorama’ dalam kanfasnya. “Seperti layaknya para pelukis impresionis yang sangat ia kagumi, Eric menampilkan kehidupan real dalam prilaku yang amat kaya dan merefleksikan sugesti prilaku manusia dan kepekaan rasa”, ujar Lie En Chong.
Tarsih Ekaputra
26/03/04