Menurut perupa lulusan Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) Singapura ini, tajuk pamerannya tersebut disandarkan atas observasi dan penemuan–penemuan estetika abstrak–ekspresionis secara personal. Selain keyakinan akan energi dalam alam semesta yang selalu akan berepetisi dan saling berinteraksi antara teratur dan tidak teratur, pasang dan surut, atau stabil dan chaos. Paradoksal tersebut divisualisasikan Zaira menyerupai citra – citra alam yang nampak kasat mata sebagai: letupan kawah gunung berapi, muntahan lahar, bebatuan koral yang berumur tua, dll. Sedangkan secara konsepsi, Zaira percaya akan kisah dinamika tentang alam. Segala sesuatu di alam fana senantiasa dinamis, naik-turun, transisi, dari kondisi tenang kemudian melonjak ke kondisi chaos, dan atau kebalikannya.
Dari 24 lukisan yang secara fisik berukuran besar dengan rata-rata 1, 5 x 2,5 meter sampai hampir 4 x 3 meter yang terdiri dari satu maupun beberapa panel besar yang menyatu, lukisan-lukisan Zaira diawali dengan format-format sederhana sebagai awal, baik warna, tekstur , serta garis dasar namun demikian tidak nampak. Perwujudan cipratan, serta muntahan cat yang tidak konstan, sabetan kuas dipadu dengan medium kain hingga mengesankan warna yang solid. Zaira memiliki kelenturan tekhnis yang mempengaruhi ujud rupa di kanvas membentuk karakter impulsif dan cepat secara alami. Perupaan ini membangun ruang dimensi berbeda dalam emosi kita, terasa ada lompatan – lompatan citra gambar tertentu bagai dunia imajiner penikmatnya
Dalam narasi hidupnya, Zaira hampir selalu dituntaskan di kota besar seperti Jakarta atapun Singapura tempat ia menempuh studi, namun ia tetap merasakan adanya sebuah alienasi di tengah gempitanya belantara metropolitan. Hal ini dikarenakan seringnya ia harus menghadapi ruang dan tempat baru karena mengikuti kehidupan orang tuanya yang selalu berpindah dari kota satu ke lainnya. Kenyataan ini sangat mempengaruhinya dalam proses sosialisasi dan adaptasinya dengan segala hal yang baru seperti daerah, lingkungan dan masyarakatnya yang akhirnya membentuk sebuah pergolakan emosi ekstrem, juga keyakinan tak ada kekekalan selalu kontras dan statis berjalan secara bebarengan. Pergolakan dalam jiwa ini secara lahirah memang nampak normal, tetapi secara tak kasat mata menimbulkan tekanan estetika yang tak ada habisnya.
Perupa Express Impressionists memang hadir guna menangkap fenomena yang tak nampak dalam dunia nyata, kemudian secara spontan dan ekspresif dicurahkan dalam bahasa visual. Seperti halnya Zaira Addila, ia mencoba menangkap setiap makna yang ia temui dalam perjalanan hidupnya melalui proses kreatif hingga menelurkan karya seni dua dimensi yang pada dasarnya sarat akan muatan paradoksal tentang gejolak alam.
Tarsih Ekaputra
Penulis Lepas dan
Pekerja pada Balai Perupa Art Community Development