As I hang up the phone, I wonder, ‘date’ , ‘kencan’ dan istilah-istilah lain membuat saya blur dengan pengertiannya. What do we know about dating? Let’s check the trace back, shall we?
From what I see, di Indonesia istilah ‘kencan’ umumnya digunakan jika kita pergi dengan pacar untuk dinner or movie or something else. Which means sebelum kita kencan dengan seseorang, kita pasti sudah melewati fase menyatakan perasaan (‘nembak’) dan orang yang kita kencani menerima ‘tembakan’ tersebut. Meanwhile, di luar sana, date biasanya dilakukan dengan orang yang baru dikenal, dan date adalah media untuk mengenal orang baru tersebut.
Then I realize, different country, different way of dating.
In the land where wooden sticks turns into trees, pola berkencan yang terjadi kira-kira seperti yang berikut ini.
Pertama Mr. X spot Ms. X. Apakah itu dari temen, dating service, chatting atau friendster.
Kedua, Mr. X mulai mencari-cari informasi tentang Ms. X langsung dari sumbernya, mencari-cari apakah ada kesamaan antara mereka berdua. Proses ini dikenal dengan PDKT (Pendekatan – who’s made this abbreviation anyway?).
Proses PDKT biasanya diisi dengan typical date activities such as movies, dinner, etc.
And then ada fase ketiga, ‘Penembakan’, it’s the phase where you tell him/her about your feeling. And if you’re lucky, you might be able to go to the next phase, ‘Dating’, with your official boyfriend/girlfriend.
And the rest is up to how the couple handle their relationship (if dating = relationship).
Fase diatas biasanya bisa bervariasi, some people melalui semuanya, some people tidak melalui PDKT, some people bahkan tidak melalui fase ‘Penembakan’.
While in the land where sex is free and taxi cabs are yellow, fase yang terjadi agak sedikit berbeda.
First, the guy and the girl spot each other. Then, they changing their phone numbers or some of them just have sex (which eventually ends with nothing than just a sex).
After which they’re dating (di fase ini mereka biasanya belum menyatakan perasaan apa-apa selain tertarik satu sama lain saja).
And then - if they’re lucky – they fall in love and tell each other about their feelings.
So, no wonder I confused about this thing.
The reality is, orang Indonesia banyak menyerap kebudayaan luar. Tetapi karena kita tidak lupa akan ‘akar’ kita sendiri, terkadang proses penyerapan itu berubah menjadi proses eclectic.
We only took their cool habit and make it ours.
Mengenai the way of dating ini sendiri, saya lebih menyukai cara orang luar (tanpa meremehkan cara orang Indonesia sendiri, because I’m an Indonesian after all). Karena saya merasakan cara mereka lebih jujur dalam hal menyatakan I Love You.
In the Indonesian way, we said I love you and any other terms that sounds a like (aku sayang kamu, etc) even before we know that person. Biasanya hal ini terjadi dalam fase penembakan (walaupun dalam beberapa kasus ada yang cuma mengatakan “pacaran yuk”). Setelah kata itu terucap, kita menjadi terikat dan officially become someone’s lover. Padahal belum tentu itu perasaan yang sebenarnya, bisa saja itu cuma crush yang eventually akan hilang. Kecuali pada kasus love at first sight, that’s an unavoidable complication. Tetapi jika itu bukan love yang sebenarnya, pada akhirnya semuanya akan hancur and somebody will get hurt.
I Love You is a big sentence bagi orang sono. That’s why mereka tidak akan mengatakannya jika mereka tidak merasakaannya. Jadi jika mereka merasa tidak cocok dengan orang yang mereka kencani, they can call the whole things off and move on to find someone new.
Permainan yang terjadi terasa lebih jujur and fair. No one is ends up hurting. If there is, at least we agree that we’re only dating, we’re not in a relationship.
-mUhU-