Refleksi Kehidupan
- Author
- Posted by admin at 11:29 PM UTC
- Category
- Filed under Tak Berkategori
Sebuah catatan perjalanan
Pertengahan oktober 2007
Refleksi Sebuah Kehidupan
Mataku tertegun menatap sebuah layar kecil dari sebuah alat komunikasi yang selalu menemani dalam hari-hariku, tekhnologi amat luar biasa, hingga dapat memberikan informasi kepadaku mengenai keberadaanku…yah aku berada di Cijaku sebuah desa yang cukup jauh dari hiruk pikuk sebuah pesta hedonisme kaum elite ataupun yang berpura-pura elite. Dan juga rintihan-rintihan sosial ekonomi dari kaum marginal seperti diriku, terlepas dari semua kasak kusuk rekayasa tentang kehidupan. Apapun yang terjadi disini paling tidak aku merasakan atmosfir yang berbeda dari habitat kehidupanku sehari-hari.
Cijaku, menurut layer di peta yang kusimpan, desa ini terletak di daerah Malingping yang merupakan bagian dari Kabupaten Lebak, yang secara geografis berada di daerah pegunungan pesisir pantai selatan. Memang cukup kurasakan elemen-elemen alam yang berasal dari ekosistem pantai. Angin, air, flora dan fauna, Cijaku lebih terkenal karena Emping dan Lemang nya (sejenis makanan seperti lontong yang terbuat dari beras ketan, dibungkus daun pisang disajikan dengan cara dibakar) atau juga hasil bumi seperti kelapa sawit, karet dan durian. Sebagian besar masyarakatnya hidup bercocok tanam di sawah dan ladang. Dan juga ada beberapa dari mereka yang mengabdikan tenaga serta pikirannya untuk sebuah kegiatan belajar mengajar, perkebunan dan peternakan. Sederhana saja seperti layaknya kebanyakan desa di Tanah Air tercinta ini.
Perjalanan yang menyenangkan dan mataku sungguh dibuai dengan keindahan alam dan buaian angin yang teramat sejuk. Telah cukup lama kaki dan alam pikiran ini tidak menikmati kebebasan, saat ini sedang kulepaskan, kubebaskan untuk liar mengembara….yah paling tidak menyusuri Cijaku, saat ini aku berada dalam sebuah keluarga yang cukup menyenangkan dan tidak tahu mengapa aku merasa betah untuk berlama-lama di Cijaku. Tapi tentu saja aku harus segera kembali ke habitatku untuk ‘mengabdi’ kepada lembar-lembar kertas demi sebuah masa depan keluargaku anak-anakku…tidak mengapa, paling tidak saat ini aku sedang bebas.
Sedikit ku berikan gambaran tentang perjalananku ini, pukul 11 siang aku mulai merayapi jalanan ibukota menuju ke tempat dimana sehari-hari aku berkutat dengan berbagai macam kesibukan, setelah kuselesaikan kewajibanku, segera aku berlalu, menuju ke Malingping, kulalui sebuah jalan yang cukup untuk membangkitkan euforia dalam berkendara, kutahan saja rasa itu, karena aku tidak ingin bermasalah dengan traffic accident, beberapa kota kusinggahi, hingga ada satu kota yang cukup membuatku terkesan dan sangat berbeda sekali dengan apa yang kubayangkan selama ini.
Aku membayangkan sebuah kota yang panas dan penuh dengan industri yang hiruk pikuk. Pandeglang…kota tersebut kulewati dalam kisaran waktu 4 jam perjalanan ku dari Jakarta. Bersih, rapi, sejuk dan aku tidak tahu mengapa, aku jatuh hati pada kota ini. Bahkan aku sempat berhenti di alun-alun kota dan mencoba berinteraksi dengan beberapa kegiatan bisnis yang ada di sekitarku, ingin tahu yang kulakukan?
Yang kulakukan adalah mencoba mengendarai mainan semacam bom-bom car yang digerakkan menggunakan tenaga listrik dari beberapa buah baterei kering, tetapi hanya memiliki 3 roda, seperti sepeda roda tiga, mainan tersebut disewakan oleh sang wirausaha seharga 5000 rupiah untuk satu kelilingan alun-alun, lucunya bom-bom car tersebut didesain sedemikian rupa hingga roda depannya akan berputar dalam poros rotasi yang tidak terpusat pada sumbu tengah roda, jadi yang kurasakan adalah seperti mengendarai sebuah kendaraan yang roda depannya benjol bahkan teramat benjol sehingga seluruh tubuhku terayun-ayun naik turun ketika bom-bom car tersebut mulai berjalan, geli dan aku tertawa puas, diiringi cekikikan beberapa ibu-ibu muda dan anak-anak kecil yang berkumpul melihat tingkahku. Ada semacam tarikan kedekatan antara alam kosmis ku dengan suasana di kota ini. Entah mengapa, tetapi saat ini aku belum ingin membahasnya.
Dengan berat hati kulewati kota ini, karena ketololanku…klasik… aku tersesat menuju ke arah Tanjung Lesung…untunglah kawanku menghubungiku menanyakan keberadaanku, aku dengarkan saran kawanku dan naluriku juga mengatakan aku salah jalan…ku putar arah dan mencoba berdialog dengan beberapa orang yang sengaja kutemui, akhirnya kutemukan jalan menuju ke Cijaku. Lumayan jauh juga ternyata aku tersesat, ada mungkin sekitar 35km. Tetap saja menyenangkan, karena kepergianku kali ini benar-benar tanpa beban tanggung jawab atau tugas dari seseorang yang otoriter, atau aku harus mentaati peraturan yang tidak jelas arah tujuan dan manfaatnya…aku sering kali merasa kasihan terhadap bangsa ini…aku berharap kali ini mother earth akan bersahabat kepadaku, aku ingin dia tunjukkan keelokannya tanpa basa-basi dan tanpa topeng kemunafikan seperti yang sering tiap hari kulihat dan kurasakan.
Menyenangkan sekali.
Ingatanku akan masa lalu muncul sehingga seolah-olah terngiang di telingaku, kata-kata sohibku seorang maestro seni lukis dan herbalis dari Amerika yang bermukim di Bali…tetapi sebenarnya dia berkebangsaan Israel. Suatu malam di sebuah renungan santai yang kami lakukan di pinggir pantai dia mengatakan kepadaku…
”Ketika kita memberikan kepada alam, maka alam akan memberikan kepada kita”
serta merta aku hentikan mesin kendaraanku…kusapu pandanganku ke segala penjuru…malam telah mulai merayapi perjalananku dan pada fokus penglihatanku kutemukan sebuah kedai kopi. Kuhampiri dan segera kupesan 2 gelas kopi, satu aku minum dan yang satu lagi aku tumpahkan ke tanah dengan penuh kasih sayang…tapi aku tidak mengharapkan apapun dari alam. Sekedar aku ingin berbagi dengan alam.
Sang ibu penjual di kedai kopi tersebut heran dan menanyakan kepadaku, mengapa kulakukan hal tersebut, apakah kopinya tidak enak? Aku tertawa sambil kudekati dan kujawab dengan lembut dan sopan agar tidak menyinggung perasaannya, kukatakan bahwa kopinya sangat nikmat sehingga aku harus membagikan nya kepada ‘temanku’. Dia mengernyitkan dahinya, dan segera kukatakan bahwa ‘temanku’ adalah tanah air tercinta ini.
Puas sekali rasanya hati ini, alangkah indahnya kalau dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bisa saling berbagi, terutama berbagi saat kita merasakan kenikmatan dan kesenangan. Namun yang sering kita jumpai adalah berbagi saat kita dalam masalah, kesulitan atau apapun keadaaan yang kita anggap tidak nyaman. Apapun penilaian sang ibu di kedai kopi itu sebenarnya tidak terlalu kupikirkan, tapi aku yakin dia dapat menerima penjelasanku dan terbukti dia menginginkan aku untuk singgah lebih lama di kedai kopinya. Dengan halus kutolak, karena aku masih harus melanjutkan perjalananku. Segera kubayar, namun dia menolak uang yang kuberikan, aku sedikit terkejut, kutanyakan mengapa, ternyata dia sekarang ingin berbagi kesenangan dengan diriku…lega rasanya…apa yang terjadi….oh ternyata dia baru saja mendapatkan uang arisan di kampungnya…luar biasa. Dengan sopan kuhargai apa yang dia inginkan dan kumasukkan kembali uang ke dompet lusuhku, dengan berat hati kutinggalkan dia pergi. Dan aku berjanji suatu saat aku kembali ke kedai kopinya untuk berbagi kebahagian dalam keadaan yang lebih baik lagi.
Indah sekali…
Dalam beberapa menit kemudian, setelah kulewati jalan yang berliku-liku dengan hutan di kanan kiriku dan tentu saja gelap, satu dua kali kulihat pendar lampu dari rumah-rumah penduduk di kejauhan yang menyiratkan sebuah kehangatan sebuah keluarga, atau paling tidak mungkin mereka sedang berkumpul membicarakan tentang kehidupan yang indah (semoga…) dan silih berganti temaram sinar rembulan menembus dari sela dedaunan, tak lama kemudian sampailah aku disebuah kota yang lumayan ramai, Malingping nama kota itu, dan alat komunikasiku berdering, melantunkan tembang “dibalik awan” nya peterpan (salamku untuk ariel, memang apa yang kita inginkan, kadang tidak pernah kita dapatkan)… sayup tapi jelas kudengar ada sapaan lembut..menanyakan keberadaanku…sejurus kemudian aku bertemu dengan kawanku…sedikit perbincangan dan segera kami telusuri perjalanan menuju ke rumahnya. Ternyata masih lumayan jauh juga, melalui kebun karet dan kebun kelapa sawit, gelap tentu saja dan jalan yang kulalui cukup menyita konsentrasiku agar tetap pada keseimbangan kendaraanku. Selama perjalanan, kawanku ini cukup lucu, dia mengeluhkan keberadaan rumahnya yang jauh di pelosok, dan dia khawatir aku tidak mau berkunjung lagi ke rumahnya…perasaan yang wajar, tapi tidak untukku, mungkin lebih tepat, kawanku itu harus melayangkan kekhawatirannya kepada para pemimpin didaerahnya, untuk segera memperbaiki akses jalan menuju ke rumahnya atau lebih tepat ke desanya, dengan alasannya agar aku tetap mau berkunjung lagi…(ha..ha..ha..) Tapi aku yakin pasti kekhawatiran kawanku akan ditampung…entah direalisasikan atau tidak…sebab para pemimpin daerah pasti punya alasan yang “lebih masuk akal” yang dilandasi oleh berbagai macam “prinsip” dan kepentingan. Namun aku hanya bergumam dalam hati, karena aku harus tetap berkonsentrasi menjaga keseimbangan kendaraanku.
Seperti kilatan petir yang konon pernah ditangkap oleh Ki Ageng Selo dalam sejarah Kerajaan di Tanah Jawa, sekonyong-konyong memori ingatanku kembali terbawa pada peristiwa beberapa tahun silam, di daerah Cisepat Gunung Gajah daerah Cianjur Pesisir Selatan, manakala aku harus menelusuri jalan selama 9 jam hanya dengan berjalan kaki dan amat sangat berat medan yang kulalui, hujan, angin badai, tanah longsor dan aku tidak kapok-kapok melakukan hal itu, malah berkali-kali, hanya sekedar untuk bisa hadir pada sebuah acara reriungan yang teramat istimewa bagiku.
“Ya ini belum seberapa, tenang saja aku akan tetap kesini lagi suatu saat” ,
hanya itu yang kukatakan pada kawanku.
Kutengok penunjuk waktu ku, tepat pukul 8 malam, ketika aku mulai memasuki sebuah rumah yang bagiku cukup besar dan di sekeliling halamannya banyak terdapat pohon melinjo, nyaman dan terkesan bersih meskipun sederhana, setelah mengucapkan salam kepada beberapa orang yang ada disitu, segera saja aku duduk di atas tikar yang terhampar dan tidak lama kemudian didepanku telah terhidang satu gelas kopi dan beberapa toples camilan. Kunikmati, sambil menceritakan perjalananku kepada beberapa orang yang sedang sesekali menyimak hiburan dari sebuah stasiun televisi yang sarat dengan muatan ‘informasi’ , satu catatan saja, dibutuhkan kelapangan hati dan pikiran dalam men-sikapi programma televisi yang bagiku penuh nuansa persuasif yang kadang terlalu berlebihan, ah… tapi mungkin hal itu akan kubahas lain waktu saja, aku cukup menikmati kenyamanan yang ada didepanku dan suasana kekeluargaan yang cukup kental akan nuansa kebersamaan.
Larut telah merayap, dan aku dipersilahkan untuk beristirahat, tapi sepertinya malam ini aku belum ingin memejamkan mataku, tak kusadari pagi segera menjelang, seiring lagu terakhir malam ini yang mulai lirih terdengar dari player musikku…
“Bintang”
…
Melangkah sendiri di tengah gelap malam
Hanya untuk mencuri jatuh sinaran
Tak terasa sang waktu melewati hidupnya
Hingga pagi menjelang mengganti malam
Bintang di langit kerlip engkau di sana
Memberi cahayanya di setiap insan
Malam yang dingin ku harap engkau datang
Memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya
…
Badanku mulai terasa pegal-pegal, tapi biarlah…kunikmati saja…
Pagi ini aku berencana akan pergi ke sebuah pantai…aku sangat menyukai ekosistem pantai…dan saat ini jujur saja aku sedang berjuang untuk dapat sedikit memberikan himbauan kepada berbagai khalayak agar mau ikut peduli dengan Kelestarian Alam khususnya Laut dan Pantai, sebenarnya langkah termudah yang dapat kita lakukan adalah tidak mencemari dan mengotori pantai serta lautan dengan berbagai macam sampah-sampah kehidupan.
2 tahun silam aku keras sekali meneriakkan tentang sebuah wacana kepedulian terhadap kelestarian lautan Indonesia….tapi tidak terlalu berhasil…aku mencoba dengan cara lain, yaitu bergabung dengan kawan-kawanku dari GREENMAPPER, untuk menjaga kelestarian ekosistem laut dan pantai.
40 menit kulalui perjalanan dan akhirnya aku tiba di sebuah pantai..Pantai Bagedur namanya…mungkin karena musim kemarau yang berkepanjangan sehingga membuat tumbuh-tumbuhan perdu dan pohon-pohon menjadi mengering…menjadikannya kelihatan tampak amat sangat gersang dan menyayat hati. Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa…hanya sedikit trenyuh saja melihatnya…aku hanya dapat menebak, mungkin alam sedang melakukan seleksi kepada para penghuninya.
Seperti layaknya sebuah tempat wisata, banyak sekali pengunjung di pantai ini yang menikmati deburan ombak atau hanya sekedar bercengkerama, kulihat sesekali mereka menyeka mukanya karena angin menerpa dengan membawa butiran-butiran pasir halus. Tak luput dari tatapan mataku, banyak sekali kegiatan wirausaha di pantai ini. Bahkan lebih dari yang kubayangkan…mungkin karena bangsa ini masih sedang merayakan sebuah hari kemenangan bagi sebagian besar penduduknya, sehingga banyak yang memanfaatkan kesempatan untuk berpesiar bersama sanak famili dan keluarga mereka, merekatkan kembali tali persaudaraan, persahabatan dan rasa kasih menyayangi di antara mereka yang mungkin semakin hari semakin pudar di gilas oleh keganasan dan kekuatan ambisi untuk dapat bertahan hidup dan berkompetisi dalam meraih kesempatan. Apapun itu….kehadiran mereka di pantai ini tentu saja dimanfaatkan oleh segolongan orang yang berjiwa enterpreuner untuk memperoleh manfaat dari mereka. Begitulah kehidupan wirausaha, dimana ada gula disitu ada semut.
Aku hanya bisa menerka-nerka saja…semoga interaksi diantara mereka adalah interaksi yang saling menguntungkan, bukan interaksi untuk saling membodohi.
Kutemukan tempat yang lumayan teduh, meski tidak terlalu nyaman, segera kurebahkan tubuhku untuk sedikit menghilangkan penat…
Sesekali kudengar suara peringatan dari menara pengawas keselamatan, mungkin kalau kita ingat di film “Baywatch” ya mirip seperti itu, yang membedakan adalah kesejahteraan dan perangkat kerja para SAR (Search And Rescue) disini tampaknya lebih parah dibandingkan dengan yang digambarkan di “Baywatch” meskipun tugas mereka hampir sama.
Suara cukup lantang dan keras mengingatkan agar pengunjung tidak terlalu menggebu untuk berenang lebih ke tengah laut. Ombak sedang besar. Semoga saja hari ini tidak ada yang perlu kau tolong, bertugaslah para pejuang kemanusiaan…salam sejahtera
Aku dan kawanku hanya berceloteh tak menentu menilai berbagai hal yang kami lihat. Tidak penting. Yang terpenting adalah seharusnya pantai ini dapat menjadi lebih baik lagi di hari-hari ke depan, semoga harapanku dapat terwujud. Bantulah aku mewujudkannya wahai para pemimpin bangsa ini, atau aku cukup berdoa saja…agar sang maha hidup memberikan keajaiban kecil terhadap pantai ini…entahlah…kuputuskan untuk kembali ke Cijaku karena hari semakin siang dan kawanku rupanya harus menyiapkan beberapa keperluan sehari-harinya di rumah.
Sampai jumpa lagi Pantai Bagedur, berusahalah untuk menuju ke ekosistem yang lebih baik lagi..terserah… apapun cara yang akan kau tempuh dan kau lakukan, aku berjanji akan membantumu dengan caraku, pesanku, kalau perlu lumatkan saja manusia yang akan merusak dirimu, dengan ombakmu yang gagah, simpan mereka di palung lautmu yang terdalam, jangan pernah kau lepaskan, kurung jiwa-jiwa busuk yang selalu serakah meraih ketamakkan kehidupan di dunia ini. Lumatkan saja tanpa ampun jangan kasihani mereka…
Aku kembali ke “basecamp” ku. Semangkuk soto segera kulahap dan tuntas…kuputuskan untuk menunda kepulanganku hari ini…selain aku masih ingin disini, badanku masih terasa sedikit pegal-pegal…esok hari pukul 9 pagi aku akan berangkat menuju ke Jakarta, kembali dengan rutinitasku. Kawanku ternyata juga tidak cukup sehat, merasa mual dan pusing…perkiraanku karena sengatan matahari yang luar biasa panas…kusarankan untuk minum beberapa butir “racun” agar sembuh dari pusing yang dideritanya. Sekarang dia terlelap.
Tidak denganku, mataku benar-benar tidak bisa kukatupkan, ditambah semakin seringnya dering alat komunikasiku memanggilku untuk sekedar membujukku agar aku mau mendengarkan celotehan dari kawan-kawanku di jauh seberang sana. Tebakanku benar, ada sedikit insiden kecil yang berhubungan dengan kantorku, jadwal deadline suatu program kerja diubah, dan dimajukan waktunya, tentu saja membuat kawan-kawanku panik, termasuk aku juga, tidak mengapa…bukankah manusia mempunyai sejuta cara dan alasan untuk mengantisipasinya…take it easy, just do it.
Saat ini aku mencoba berandai-andai..ternyata benar juga kalau sebagian orang merasa akan terjadi kiamat kecil apabila kehilangan alat komunikasinya…terutama pada saat-saat genting seperti insiden kecil di kantorku tadi, yah… paling tidak akan terjadi ketidaknyamanan. Pernahkah mencoba runway dari rutinas sehari-hari, kita tidak perlu pergi ke tempat yang jauh seperti yang kulakukan, cukup tarik selimut dan MATIKAN alat komunikasi. Beranikah menerima tantangan ini…(Jangan pernah melakukan jika kita sedang punya hutang ke orang lain…bisa-bisa kita dikira kabur dari tanggung jawab…ha…ha…ha…,tetapi jujur saja aku pernah melakukannya…tetapi selalu kutinggalkan pesan di kotak suaraku yang bunyinya
“Silahkan datang ke rumah jika nomer ini tidak aktif”
…sekali lagi …ha…ha…ha…)
Sore ini benar-benar membuatku serasa kembali ke habitatku, kuakui aku sedikit kalang kabut dalam mengantisipasi perubahan deadline yang dimajukan demi kepentingan bisnis yang selalu dikedepankan, dengan tujuan untuk kelangsungan hidup kantor dimana aku bekerja, secara naluriah kawan-kawanku sibuk membereskan pekerjaan mereka masing-masing, tak luput juga aku menjadi sasaran telepon dari mereka, kutegaskan bahwa posisiku sangat tidak memungkinkan untuk menyelesaikan beberapa tugas dalam satu hari ini. Tetap saja dengan alasan bisnis aku harus dapat menyelesaikannya.
Semoga semuanya dapat berjalan lancar, sebenarnya aku punya alibi untuk menolak “pemaksaan” tersebut…tapi rasa kemanusiaanku ternyata masih lebih dominan daripada logika ku. Tidak ada salahnya sekali waktu kita coba untuk lebih mengedepankan kata hati, sebab kata hati adalah tidak pernah salah. Beruntunglah aku cukup “pandai” untuk menyingkirkan sejenak logika ku.
Malam di Cijaku telah kembali merayapi desa ini, tepatnya kampung Sukasari Desa Cijaku Kecamatan Cijaku Kabupaten Lebak. Atau lebih singkat Cijaku Malingping. Kawanku telah tertidur dengan sejuta mimpinya…sementara aku baru saja pulang dari acara tahlilan di kampung seberang, sengaja aku menyempatkan diri untuk hadir di acara tersebut, meskipun aku bukan penduduk daerah ini, namun kupikir tidak ada salahnya, toh aku tidak merugikan mereka dan semoga doaku diterima oleh sang maha hidup, seluruh penduduk kampung kehilangan seorang sesepuh yang baru saja meninggal sore tadi. Seorang yang sudah berumur dan dituakan oleh penduduk kampung telah pergi selama-lamanya menghadap sang maha hidup, semoga seluruh esensi jiwa raga kehidupannya dapat menemukan apa yang beliau cari semasa hidupnya. Amin
Terlintas memoriku masa kecilku, saat aku berusia 7 tahun, aku mulai hidup seorang diri…dan terus kujalani hingga saat ini, sering sekali aku memaknai kehidupan ini dengan sebuah jangkar-jangkar kesalahan dan kebenaran yang aku labuhkan disana-sini, dan aku yakin bahwa aku tidak sendiri, bahkan semua orang akan melakukan hal yang sama sepertiku. Apapun bentuknya itu, aku atau mereka dan masing masing dari semua yang ada dalam perangkat jiwa dan raga manusia, pasti pernah melakukan kesalahan dan kebenaran baik disadari maupun tidak dan kesalahan yang telah kita lakukan selalu dapat “termaafkan”…sebenarnya tidak demikian, namun aku mencoba menuliskan dan menggambarkan bahwa sosok manusia ini masih lebih beradab daripada si Malin Kundang yang dikutuk Ibunya menjadi sebuah batu. Sehingga manusia bisa memberi maaf, meskipun tidak dengan mudah.
Akan menjadi sebuah catatan penting dalam kehidupan kita, apabila kita berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di hari-hari kedepan.
Tapi coba pahami dengan sudut pandang yang lain…bukankah sebuah kesalahan adalah suatu bentuk hasil dari sebuah proses kegiatan dan aku pikir bisa saja kita sengaja berbuat salah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau sebaliknya. Atau mungkin kita telah sengaja berbuat salah dengan mengorbankan sebuah kebenaran demi untuk kepentingan yang “lebih besar”…kalau kepentingannya adalah untuk Tanah Air tercinta ini…tentu saja orang seperti aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Anggap sajalah bentuk pengorbanan ku kepada Tanah Air tercinta, meskipun sebenarnya aku juga telah banyak berkorban, aku harus jungkir balik untuk mengikuti ritme mahalnya pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok …kalau kusebutkan semua, aku takut dianggap tidak mensyukuri apa yang kudapatkan sekarang ini…Singkat saja
“Enak tidak enak harus di lakoni”
Mungkin saat ini kesetiaan ku terhadap Tanah Air tercinta ini sedang diuji..
Ada pendapat dari seorang pakar, yang jelas aku sangat menghormatinya…
Kesetiaaan yang tertinggi adalah kesetiaan terhadap sebuah prinsip, seseorang akan rela meninggalkan, mengorbankan apapun yang dia miliki untuk sebuah prinsip. Prinsip tentang keagamaan, ketuhanan, kehidupan, dan kemanusiaan.
(sedikit kutambahi yaitu sekedar prinsip egoisme yang bersifat oportunis, seperti yang banyak terjadi pada bangsa ini…sungguh yang satu ini membuatku mual…)
Tetapi sebenarnya aku mempunyai suatu fenomena yang sedikit antagonis, suatu ketika aku berjumpa dengan kawan-kawanku yang notabenenya mereka disebut sebagai seorang seniman, yah paling tidak tetangga dikampung mereka menyebutnya demikian…tetapi bagiku mereka adalah seorang seniman tulen yang benar-benar berkarya secara luar biasa mencurahkan semua elemen-elemen diri yang “berbau” seni, suatu hal yang membuatku kagum adalah ketika di suatu acara pameran lukisan, aku berjumpa dengan salah seorang dari mereka…
”Hei..wah hebat kau sekarang kawan…sudah mulai aktif di pameran, karyamu yang disebelah mana?”
sambil kusapukan seluruh pandanganku ke berbagai sudut ruangan…dan ketika mataku kembali tertumpu pada titik matanya…dia kelihatan bersungut-sungut menjawab…
”kau ini menghina….aku jualan tahu goreng didepan sana…membantu istriku”
…oh..o o o dengan sedikit bingung segera kutarik lengannya dan kuajak keluar dari tempat tersebut.
Sebuah teriakan panggilan menusuk di kupingku, ketika vocal seorang wanita memanggil namaku dan nama kawanku. Kawanku sang seniman tadi ganti menarik lenganku menuju ke sebuah gerobak dorong yang penuh bahkan teramat penuh dengan tahu goreng…kami mendekat dan aku sadar bahwa vocal tadi adalah vocal istri kawanku.
“Mas…, kan banyak yang beli, bantuin kek…, malah pergi !!”
gerutuan itu membuatku bengong, dengan sigap dan tangkas kawanku segera melakukan apa yang diperintahkan istrinya…dan secara reflek aku ikut aktif membantu mereka, membungkus beberapa tahu goreng dan memberikannya pada beberapa orang pembeli. Setelah pembeli berangsur-angsur mulai berkurang…mulailah temanku mendongeng…
”Istriku sudah lama mengikuti idealismeku dan prinsip hidupku sebagai seniman, dan sekarang tidak ada salahnya aku mengikuti idealisme dan prinsip istriku untuk dagang tahu goreng…”
ditimpali kerlingan mata menggoda ke arah istrinya…dan istrinya pun tersenyum simpul…(senyum yang semanis sambel cocol yang dihidangkan bersama tahu goreng) sambil menghitung uang yang berserakan di depannya…
”Kalian ini memang manusia yang luar biasa…”
sahutku…dengan masih sedikit heran melihat fenomena didepanku.
Menakjubkan…aku yakin kawanku tadi membutuhkan energi yang luar biasa besar agar dia dapat mengikuti idealisme istrinya…energi yang dicurahkannya untuk membendung idealismenya sendiri dan juga energi yang dia curahkan untuk dapat menerima kenyataan dirinya saat ini. Bagiku kawanku tadi semakin mengkukuhkan dirinya sebagai seorang maestro seni kehidupan…seniman tulen yang karyanya lebih bermakna dari lukisan Leonardo da Vinci, paling tidak bagiku.
Kubawa beberapa bungkus tahu goreng ke rumah dan ku nikmati bersama anak perempuanku satu-satunya. Tentu saja tidak lupa dengan sambel cocolnya…Kami berdua menikmati hingga ludes.
Nikmat sekali.
Refleksi dan saling merefleksikan sebuah harapan dan cita-cita, selalu akan memberikan keindahan di dalam hidup kita, aku sangat mempercayai itu, seperti ketika aliran air sungai merefleksikan cahaya dari sosok sang bulan purnama, dengan begitu lembut dan tenang, sehingga akan tampak sebuah nuansa kedamaian, meskipun tidak seterang cahaya aslinya, tetapi paling tidak masing-masing elemen telah memberikan kelebihannya satu dengan lainnya, sang bulan memberikan cahayanya dan air akan memberikan kilaunya.
Maknailah kehidupan ini dengan sebuah kedamaian, hindarkan perseteruan yang tanpa akhir, kunci rapat-rapat pintu ego, marilah saling bergandeng tangan untuk sebuah keharmonisan kehidupan seluruh mahluk hidup di jagad alam semesta ini.
Sekelumit tembang Babad dari kawanku yang telah puas menjalani kehidupannya, semoga kau di alam sana selalu menjadi pujangga untuk kedamaian hati setiap insan.
“Babad Biyung Jagad”
“Getih Suci Wasesoning Geni”
“Siro Lampah Kebak Manah”
“Ajar Jujur Ngangsu Luhur”
“Sun Jukuk Roso Niro”
“Yo Roso Ingsun Panutan Niro”
Sampai jumpa Cijaku,
Semoga kau akan selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari, tetaplah murni dan alami meski kelak kau kan tersentuh oleh modernisasi sebuah tradisi
Salam sejahtera
Elang 2007
1 Comment
Comment by hamiddin
mantap benget kata-katanya…. gue salut….