Sedikit Tentang Donald dan Malaysia
- Author
- Posted by admin at 8:58 PM UTC
- Category
- Filed under Tak Berkategori
- Keywords
- Tagged with Malaysia
Dalam sebuah sesi dialog di radio citra protiga Malang pada tanggal 30 agustus 2007 lalu, Tri Bekti salah satu wasit karateka Indonesia yang turut dalam rombongan wasit karateka menyertai Donald Luther Kolopita menceritakan, kejadian pemukulan bermula dari rapat yang diikuti Donald Luther dengan AKF untuk menentukan wasit dalam kejuaraan karateka tersebut.
Dalam rapat yang berakhir sekitar pukul 2 malam itu, Donald segera pulang menuju Hotel tempatnya menginap sebab hotel tempat rapat letaknya cukup berjauhan. Permasalahan kemudian timbul dalam perjalanan pulang, dengan alasan untuk razia narkoba 4 polisi tidak memakai seragam menghentikan langkah Donald menuju hotelnya. Namun, dalam pemeriksaan yang tidak begitu jelas tersebut Donald dan polisi terlibat adu mulut yang mengakibatkan terjadinya perkelahian. Di awali dengan pemukulan Donald pada salah seorang polisi.
Pertengkaran berakhir setelah polisi menunjuk identitasnya dan segera membawa Donald menuju ke Kantor polisi. Dalam keadaan diborgol, di kantor polisi inilah kejadian pemukulan secara membabi-buta terhadap Donald dilakukan polisi. Menurut Tri Bekti, terjadinya pertengkaran antara Donald dengan polisi disebabkan perkataan kasar polisi yang menyudutkan Donald sebagai orang Indonesia. Sehingga, Donald merasa terhina dan emosional karena sikap provokatif dari perkataan polisi.
Sentimen kebangsaan tersebut timbul, karena traumatiknya para polisi malaysia dengan TKI yang banyak melanggar peraturan, tidak tertib, bodoh, kurang terampil, dan pekerja kelas rendahan. Sehingga, mereka mengambil kesimpulan semua orang Indonesia mempunyai tingkah laku yang kurang lebih sama. Anggapan inilah yang kurang lebih menjadikan Indonesia dipandang sebelah mata oleh malayasia. Panggilan “Indon” bagi para TKI yang dirasakan sangat melecehkan harga diri dan martabat bangsa merupakan akibat dari kualitas TKI kita yang dinilai sangat rendah.
Selain itu, alergi kebangsaan yang muncul karena perilaku menyimpang para TKI. Permasalahan itulah yang sebenarnya akar masalah dari puncak gunung es banyaknya perselisihan antara Indonesia dan Malaysia akhir-akhir ini. Pandangan miring tentang TKI adalah sumber utama lahirnya persepsi negara lain tentang bangsa kita.
Karena itu, menyikapi kita perlu hati-hati mengaitkannya dengan nasionalisme bangsa. Jangan sampai nasionalisme dijunjung dengan semangat perang saja. Jika dulu Sukarno berani meneriakkan ganyang Malayasia, permasalahannya jelas. Malaysia dianggap bagian dari negara boneka Inggris yang hendak djadikan alat oleh Inggris untuk menegakkan neoimperialisme. Namun, pemukulan terhadap Donald jelas berbeda konteks. Permasalahan Donald bermula dari asumsi negatif tentang bangsa kita, selain itu konteks kasus Donald adalah dalam dunia olahraga. Berbeda 180 derajat dengan kasus ganyang malaysia pada zaman pemerintahan Sukarno.
Akan lebih tetap, jika kasus Donald diselesaikan didalam meja pengadilan. Hal tersebut akan lebih baik dan berjiwa kstaria guna mengungkap siapa yang sebenarnya salah dan memulai menyulut terjadinya perkelahian. Jika memang Donald merasa dirinya benar, Donald wajib melaporkannya para polisi yang menganiayanya bukan mengugata bangsa Malaysia. Apalagi sampai harus menarik TKI, memutus hubungan diplomatik, melakukan sweeping warga malaysia di Indonesia, memboikot Siti Nurhaliza bukan merupakan langkah yang bijaksana.
Dari kasus ini, sebenarnya harus dijadikan refleksi kita bersama tentang pandangan minor terhadap bangsa Indonesia kini. Tanpa bermaksud untuk romantisme sejarah, saat zaman Presiden Sukarno berkuasa sampai jatuhnya Suharto walaupun Indonesia disebut negara berkembang, negara kita tidak pernah dipandang sebelah mata oleh negara lain. Lahirnya Gerakan Non Blok (GNB), satu diantara keberanian para pemimpin bangsa untuk bersikap dalam percaturan politik global.
Untuk itu, sebagai bahan refleksi kita bersama langkah yang perlu ditempuh adalah segera melakukan evaluasi terhadap kualitas para TKI yang kita kirim ke luar negeri. Peningkatan SDM para TKI sangat urgent untuk membangun kembali persepsi masyarakat dunia tentang kualitas SDM kita. Keberanian Sukarno mengatakan ” Inggris saatnya kita linggis, dan Amerika kita setrika” bukan sekedar keberanian tanpa disertai kualitas SDM yang memadai.
Dunia internasional tidak hanya mengakui kualitas sosok Sukarno. Hampir semua tokoh-tokoh awal perjuangan kemerdekaan dihargai karena mempunyai kualitas pengetahuan dan wawasan yang tinggi. Peningkatan kualitas SDM merupakan langkah paling strategis guna membenahi pandangan terhadap negeri ini.
(dari posting ss_ahaan dalam Forum Penulis Kota Malang)